Pengumuman Karya yang Berhak Dibukukan

20 ESAI Terbaik adalah yang tercetak tebal

Pendidikan dan karakter bangsa:

  1. Jati Diri Bangsa Bermula dari Pendidikan. 
  2. Pendidikan untuk Mereka uang Tersisihkan. 
  3. Keprofesionalan Pendidikan Karakter Siswa (Guru), Jangan Diukur dari Embel-embel Sertifikasi. 
  4.  Pendidikan Karakter dan Kemajuan Bangsa. 
  5.  Pendidikan Humanis dan Problematika Kemanusiaan. 
  6. Pemuda Masa Depan. 
  7. Pendidikan Kita Tidak Dikotori oleh Orang Lain, Namun Oleh Pendidiknya. 
  8. Pendidikan Karakter, Perlukah? 
  9. Merindukan Sistem Pendidikan Terintegrasi Demi Terwujudnya Generasi Berkarakter.
  10. Aku dan Dunia-Contek Menyontek. 
  11. Sekolah Berbasis Kearifan Lokal, Peretas Pendidikan yang Membebaskan. 
  12. Revolusi Optimisme. 
  13. Menggugat Civitas Academica Kampus untuk Mempertahankan Karakter Bangsa.

Melalui Sains kita bangun pendidikan Indonesia
  1. Alam Mendidik Karakter & Kreatifitas
  2. Melalui Sains Kita BAngun Pendidikan Indonesia

Pendidikan dan Lingkungan Hidup

  1. Eco-Green Hero Permainan Edukatif Bertemakan Lingkungan untuk Siswa SD
  2. Mengurangi Kegunaan Sepeda Motor di lingkungan kampus untukmenciptakan suasana belajar yang kondusif sekaligus mengurangi polusi udara
  3. Pengaruh Pendidikan lingkungan terhadap minimalisasi kebiasaan buang sampah sembarangan di dusun wini, Humusuc Nuusa Tenggara Timur

Pendidikan, Seni, dan Budaya

  1. Pengetasan kemiskinan melalaui wisata kemiskinan berbasis pemberdayaan & pengembangan kelompok & kepemudaan "sebuah upaya dualis penghilangan kebudayaan kemiskinan di Indonesia"
  2. Mengakar Budaya dan seni dalam pendidikan di Indonesia
  3. Mengembalikan karakter Indonesia yang sesungguhnya dengan kembali semangat seni & budaya yang mulai padam
  4. Wajib Angklung
  5. Harapanku Pada Indonesia Dalam Bidang Pendidikan Seni Tradisional Untuk Meningkatakan Peran Pemuda Sebagai Pelaku Utama Kembangnya Seni Tradisional Degan Menggunakan Metode s2lr K-Pop
Selamat untuk Para Pembuat Karya Terpilih

Pihak Panitia Akan  Menghubungi anda Via Email tanggal 4 November 2012

Voting ditutup

Pengumuman Tanggal 30 Oktober 2012
pukul : 21.00

Bazar Buku SIA2012

Bismillahirrahmanirrahim

Bazar Buku Hadir di acara Sospol In Action demi memfasilitasi Masyarakat Indonesia untuk mendapatkan akses buku murah.dari sini diharapkan akan terbangun budaya baca yang tinggi. bazar buku SIA menjual berbagai macam buku seperti :

  1. Sirah Nabawiyah
  2. Buku Pendidikan
  3. Biografi Tokoh
  4. Karya Tokoh Indonesia
  5. Sejarah
  6. Novel Kehidupan
  7. dll



Bazar Buku ini Mengunakan Metode Pembayaran "Totalitas Ikhlas"

cp : 08978280141

Rahmah El Yunussiyah (Pendahuluan)


Dunia pendidikan kita di Indonesia saat ini masih berjuang keras untuk bangkit. Dengan harapan kebangkitan pendidikan itu suatu saat akan membuat peringkat SDM Indonesia tidak lagi di bawah angka 100 tetapi bisa masuk dalam jajaran 10 besar dunia. Ditengah kerja keras membenahi pendidikan, dalam saat yang sama, bangsa kita juga semakin miskin tokoh yang dapat menjadi figur teladan bagi umat dan bangsa. Kepergian tokoh-tokoh besar pejuang Indonesia ke hariban Tuhannya belum tergantikan sampai saat ini. Walaupun demikian, suri teladan dan kisah perjuangan yang mereka tinggalkan tetap bergema di pelosok negeri. Gema keteladanan mereka yang kita bingkai dalam mendidik anak dan generasi semoga akan melahirkan kembali generasi tangguh yang akan mengangkat peringkat kualitas SDM Indonesia di pentas internasional seperti perjuangan yang telah dilakukan Rahmah EL Yunusiyyah.


Nama Rahmah EL Yunusiyyah goresan sejarah yang indah. Melukiskan ketegaran seorang muslimah pejuang dan pendidik dibalik kelembutan selendangnya. Beliau hadir disaat kaumnya belum mendapatkan pendidikan yang layak. Beliau dirikan Perguruan Diniyyah Puteri pada tanggal 1 November 1923 saat dirinya berusia 23 tahun. Namun dibalik kelembutan sebagai seorang pendidik beliau juga seorang pejuang yang tangguh. Ini terbukti ketika akhirnya pada tahun 1945 beliau mendirikan dan memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta pasukan Fisabilillah menghadapi agresi Belanda di saat tidak ada kaum pria yang berani mengambil posisi itu. Sungguh panjang perjuangan muslimah ini untuk kita kupas dan kita teladani.

Fauziah Fauzan EL M, SE, AKt, MSi.


CURRUCULUM VITAE
Nama                                       : Fauziah Fauzan EL M, SE, AKt, MSi.
Jenis Kelamin                         : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir          : Padang, 5 Januari 1971
Status Perkawinan                : Kawin
Agama                                     : Islam
Jabatan                                   :
              Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri- Padang Panjang
  Ketua STIT Diniyyah Puteri Rahmah EL Yunusiyyah
  Direktur Diniyyah Training Centre
  Direktur Diniyyah Research Centre

Alamat            Kantor               : Jalan Abdul Hamid Hakim No 30 Padang Panjang
            Telp/ Fax                      : 0752 – 82386/  0752-84513
Alamat Rumah                         : Jln Abdul Hamid Hakim  no 40 Padang Panjang
            Telp/ Fax                     : 0752 – 82830,  HP: 08163256271

Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
                                                                                             Padang Panjang, 9 September 2012


                                          (Fauziah Fauzan ELM, SE, Akt, Msi)

Voting Online Dimulai


Voting Online akan di adakan dari tanggal 22 - 25 Oktober 2012
cara memberikan voting dengan menggunakan akun Facebook dan Twitter kalian.
  1. Men-Klik tombol "like" facebook yang terdapat di bawah tulisan (1 like = 1 poin)
  2. Melakukan tweet dengan memnggunakan tombol tweet yang terletak di akhir tulisan  (1 tweet = 0.1 poin)
  3. Men-Klik tombol voting di bawah karya (1 voting = 1 Poin)
Selamat melakukan voting


ESAI (diambil 20 Esai dengan Poin terbanyak)

Pendidikan dan karakter bangsa:

  1. Jati Diri Bangsa Bermula dari Pendidikan. 
  2. Pendidikan untuk Mereka uang Tersisihkan. 
  3. Keprofesionalan Pendidikan Karakter Siswa (Guru), Jangan Diukur dari Embel-embel Sertifikasi. 
  4.  Pendidikan Karakter dan Kemajuan Bangsa. 
  5.  Pendidikan Humanis dan Problematika Kemanusiaan. 
  6. Pemuda Masa Depan. 
  7. Pendidikan Kita Tidak Dikotori oleh Orang Lain, Namun Oleh Pendidiknya. 
  8. Pendidikan Karakter, Perlukah? 
  9. Merindukan Sistem Pendidikan Terintegrasi Demi Terwujudnya Generasi Berkarakter.
  10. Aku dan Dunia-Contek Menyontek. 
  11. Sekolah Berbasis Kearifan Lokal, Peretas Pendidikan yang Membebaskan. 
  12. Revolusi Optimisme. 
  13. Menggugat Civitas Academica Kampus untuk Mempertahankan Karakter Bangsa.

Melalui Sains kita bangun pendidikan Indonesia
  1. Alam Mendidik Karakter & Kreatifitas
  2. Melalui Sains Kita BAngun Pendidikan Indonesia

Pendidikan dan Lingkungan Hidup

  1. Eco-Green Hero Permainan Edukatif Bertemakan Lingkungan untuk Siswa SD
  2. Mengurangi Kegunaan Sepeda Motor di lingkungan kampus untukmenciptakan suasana belajar yang kondusif sekaligus mengurangi polusi udara
  3. Pengaruh Pendidikan lingkungan terhadap minimalisasi kebiasaan buang sampah sembarangan di dusun wini, Humusuc Nuusa Tenggara Timur

Pendidikan, Seni, dan Budaya

  1. Pengetasan kemiskinan melalaui wisata kemiskinan berbasis pemberdayaan & pengembangan kelompok & kepemudaan "sebuah upaya dualis penghilangan kebudayaan kemiskinan di Indonesia"
  2. Mengakar Budaya dan seni dalam pendidikan di Indonesia
  3. Mengembalikan karakter Indonesia yang sesungguhnya dengan kembali semangat seni & budaya yang mulai padam
  4. Wajib Angklung
  5. Harapanku Pada Indonesia Dalam Bidang Pendidikan Seni Tradisional Untuk Meningkatakan Peran Pemuda Sebagai Pelaku Utama Kembangnya Seni Tradisional Degan Menggunakan Metode s2lr K-Pop

Aku Bangga Jadi Anak Indonesia


Meraih Mimpi Untukmu Indonesia


Indonesiaku


Kita Anak Bangsa Indonesia


Negeriku Negeri Penuh Mimpi


Semua Untuk Indonesiaku


Berdiri Untuk Indonesia


Stetoskopku Untuk Indonesiaku


Prestasiku Untuk Masa Depan (2)


Prestasiku Untuk Masa Depan (1)


Indonesia Adalah Harga Mati


Mari Pahlawan


100% Indonesia


Anti Suap


Negeri Emas


Aku Wayang dan Aku Indonesia



Generasi Muda itu, AKU


Suarakan Aksimu


Semangat Garuda Indonesia


Nasionalisme Is Me


Rumah Sakit Herbal Sebagai Pemanfaatan Kekayaan Alam Indonesia

Klik untuk Memperbesar

Tidak Selamanya Yang Terpencil Itu Terbelakang

oleh : Hardiat Dani Satria
Membicarakan pendidikan memang sesuatu yang ironis. Bisa dikatakan, banyak orang menganggap pendidikan itu sebagai keharusan dan pencapaian yang sangatlah penting. Tidak jarang yang menjadikan pendidikan itu sebagai sarana prestis semata untuk meningkatkan status sosial. Pendidikan sekarang yang berkualitas hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berduit. Saya yakin banyak yang berharap bahwa pendidikan dapat mengubah nasib dan meninggikan status ekonomi. Apakah seperti itukah tujuan dari pendidikan?. Dengan demikian sama saja pendidikan sebagai sarana ajang peningkatan prestis dan pencari ijazah saja.

Pengaruh Pendidikan Lingkungan Terhadap Minimalisasi Kebiasaan Buang Sampah Sembarangan Di Dusun Wini, Kelurahan Humusu C, Nusa Tenggara Timur, 2012

oleh :Tri Octavianti

22 Juni 2012, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kelurahan Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT),  dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI) 2012. Pengalaman luar biasa untuk mengabdi dan melihat langsung saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia, dengan segala keterbatasan yang ada di sana. Akses untuk sampai di Kelurahan Humusu C melalui jalan darat dapat ditempuh selama delapan (8) jam dari Kupang, Ibukota Provinsi NTT. Kelurahan Humusu C terdiri dari empat dusun yakni Dusun Wini, Dusun Maesmolo, Dusun Temkuna, dan Dusun Manufonu. Kelurahan Humusu C merupakan daerah perbatasan Republik Indonesia (RI) – Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL) dengan dusun yang berbatasan langsung ialah Dusun Wini. Selain itu, Kelurahan Humusu C merupakan wilayah pegunungan sekaligus terletak di pinggir pantai yang memiliki pemandangan indah. Akan tetapi, satu hal yang merusak keindahan hal tersebut yakni sampah-sampah yang berserakan di lingkungan sekitar yang dibuang sembarangan oleh para warga setempat karena ketiadaan tempat sampah dan tempat pengelolaan akhir (TPA). Dengan demikian, pendidikan lingkungan baik melalui pendidikan formal maupun informal perlu diberikan sebagai solusi alternatif minimalisasi kebiasaan buang sampah sembarangan.

Kecilnya Arti Pendidikan di Daerahku Yang Terpencil

oleh : Philip Anggo K

Begitulah hal yang  ada di benak saya ketika melihat kembali pada kenyataan pendidikan formal desa saya. Benar jika saya mengatakan bahwa desa saya adalah desa yang kecil. Secara geografis dapat dilihat dalam peta atau google map letak dari desa saya. Jika melihat map dari provinsi DIY maka coba sedikit melirik ke pojok kanan bawah dari map, disitu akan ada sebuah kabupaten yang tidak asing lagi namanya, kabupaten Gunungkidul. Setelah itu mari coba melirik lagi ke pojok kanan bawah sekali lagi, disitu akan terdapat suatu kecamatan bernama Rongkop. Di kecamatan tersebutlah saya tinggal dan memulai awal pendidikan saya mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Namun marilah menengok sekali lagi map kita dan kita masukkan sebuah kata dalam pencarian map dengan kata “Botodayaan”, maka kita akan menemukan suatu daerah yang ketika dilihat dari mata map sebagai tempat yang dipenuhi bukit di setiap sudut map.

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan Di Daerah Terpencil

oleh : Partin Nurdiani

Pendidikan merupakan wadah penting yang menjadi titik krusial pembentukan mental, spititual, sekaligus intelektualitas bagi generasi bangsa. Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang tidak ada habisnya. Mulai dari prestasi-prestasi anak didik kita di tingkat nasional maupun international hingga rendahnya kualitas pendidikan di daerah terpencil. Masih kurangnya sarana dan prasarana dan kualitas pengajarnya yang pas-pasan menjadi salah satu faktor penyebab pendidikan di daerah terpencil terkesan tertinggal. Sehingga kemajuan pendidikan di Indonesia hanya terpusat di daerah perkotaan sedangkan di daerah terpencil kurang diperhatikan. Tak jarang kurangnya perhatian pemerintah itu mengesankan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum benar-benar adil seperti apa yang tercantum dalam UUD 1945.

“Kami” Butuh Pendidikan

oleh :Nurdianah Fitri

Mendapatkan pendidikan adalah hak bagi setiap anak. Seperti yang kita tahu, banyak anak-anak di daerah pelosok atau terpencil yang tidak mendapatkan pendidikan sekolah. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah, ditambah lagi bagi mereka yang kurang mampu, biaya pendidikan itu tidaklah murah. Beberapa faktor lagi yang membuat mereka enggan untuk sekolah adalah sarana transportasi dan jauhnya jarak sekolah dari tempat tinggal mereka. Sekolah di daerah-daerah memang jauh dari pemukiman masyarakat dan dari segi jumlah masih perlu penambahan.

Inilah Aku, Kamu Dan Kita

oleh : Nosta Perlin N
“Sekolah itu bukanlah segalanya. Tanpa sekolah, kamu masih bisa hidup”. Sebuah kalimat yang sering di ucapakan oleh kedua orang tua ketika anaknya beranjak memasuki usia sekolah. Anak-anak di Nias tidak pernah menolah dan selalu menggangguk menandakan bahwa mereka setuju.
            Anak di Nias yang sudah berumur 6 sampai 7 tahun sudah terbiasa mandi di sungai deras sendirian. Dengan gesitnya anak-anak tersebut cepat-cepat kembali kerumah, berpakaian dan berangkat sekolah. Tanpa mobil, tanpa angkot dan sepeda. Mereka  berjalan kaki walaupun sekolahnya berjarak ratusan meter. Keadaan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan anak di kota besar yang sudah terbiasa dengan istilah “antar jemput”. Angkot, becak dan angkutan umum bertebaran dimana-mana.

Dimanapun Kaki Berpijak, Berkontribusilah untuk Pendidikan

oleh : Karina Octavira

Seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh tahun berlari sembari menjinjing tasnya. Namanya Nina, anak perempuan yang tinggal tidak jauh dari kontrakan saya di Samarinda. Ia memakai pakaian yang sebelumnya belum pernah ia pakai lagi entah sejak kapan. Hari ini hari pertamanya sekolah, setelah sekian lama tidak merasakan suasana sekolah. Dulu, ia sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar di Jawa sebelum pindah ke Samarinda, Kalimantan Timur, namun putus sekolah tanpa sempat naik kelas. Tak sekolah sekitar satu tahun, saya dan teman-teman kerap membantunya belajar, walaupun sekadar membaca, mengenal huruf, menulis, dan berhitung. Kenapa ia tidak melanjutkan pendidikannya di Samarinda? Alasannya karena masalah administrasi di sekolah lama yang menyulitkannya untuk melanjutkan sekolah. Tapi sepertinya bukan karena itu saja, mungkin juga karena orang tuanya.

Buka Mata

oleh : Dwi Yulianti

Pendidikan adalah hal yang memiliki peran penting didalam perkembangan dan kemajuan sebuah bangsa. Karakter sebuah bangsa dibentuk melalui pendidikan. Hanya bangsa dengan tingkat pendidikan yang baiklah yang mampu membentuk karakter kuat dalam tubuh bangsanya. Melalui pendidikan yang baiklah kemudian lahir generasi bangsa yang cerdas secara akademik, moral serta emosi. Melalui pendidikan pula lahir lah generasi bangsa yang tidak akan dengan mudah tergerus oleh zaman dan pengaruh buruk dari luar. Begitu pentingnya pendidikan sampai–sampai pada saat peristiwa jatuhnya bom Hirosima dan Nagasaki pemerintah Jepang memerintahkan para tentaranya untuk segera menemukan para guru yang masih hidup. Negara Jepang pada saat itu, sadar betul bahwa hal dasar yang dibutuhkan untuk kembali membangun bangsanya bukalah hanya uang dan materi melainkan ilmu yang dapat diperoleh melalui pendidikan.

Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan melalui Pendidikan

Oleh: Doriani Lingga

Kemiskinan merupakan masalah klasik yang dialami oleh hampir setiap negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Sulitnya mengatasi masalah kemiskinan turut memperkeruh keadaan, hingga kemiskinan seolah menjadi suatu masalah yang tak kunjung menemui titik akhir. Indonesia sebagai salah satu negara yang juga masih berjuang mengatasi masalah kemiskinan turut menghadapi persoalan yang sama. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memerangi kemiskinan, diantaranya ialah pemberian bantuan materil seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), subsidi pangan untuk masyarakat miskin, pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) dan program IDT serta Kukesra/Takesra yang merupakan pemberian modal bergulir sebagai hibah dan pinjaman/kredit mikro.  Namun tampaknya upaya tersebut belum mampu memberikan hasil yang diharapkan. Angka kemiskinan di Indonesia tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 juta jiwa menjadi 39,30 juta jiwa, sekitar 17,75% dari total jumlah penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2010). Menurut versi Bank Dunia kondisi kemiskinan di Indonesia justru lebih parah, dimana sebanyak 46,12% dari total jumlah penduduknya berada di bawah garis kemiskinan (memiliki pendapatan kurang dari US$ 2 per hari).

Terdepan Juga Terbelakang : Sebuah Potret Pendidikan di Daerah Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia

ditulis Oleh : Irwin Septian

Dewasa ini telah lama kita ketahui pendidikan merupakan aspek yang penting dalam kehidupan manusia, semua hal dapat terungkap dan dijelaskan dengan adanya pendidikan. Tanpa pendidikan, mungkin bumi ini akan banyak dipenuhi orang-orang yang tak berakal dan perusak. Pemerintah pun telah gencar mempromosikan kepada warga negaranya agar dapat sekolah hingga minimal jenjang SMP (Wajib Belajar 9 tahun), kenapa pemerintah begitu perhatian sekali dengan pendidikan ? bahkan 20% APBN kita diambil hanya untuk pendidikan. Mestinya dengan dana begitu besar kita harus lebih maju dan bisa sejajar dengan negara lain.

Menggugat Civitas Akademika Kampus untuk Mempertahankan Karakter Bangsa

ditulis Oleh : Syaifudin
Pengantar Diskursus
Multikulturalisme merupakan karakteristik bangsa Indonesia. Karakteristik itu ditunjukkan tidak hanya dari 17.500 pulau yang beragam jenis, tetapi juga dari kekayaan etnis, budaya, dan agama. Dari keanekaragaman itu, Sultan Hamengku Buwono X (2008: 21) mengibaratkan Indonesia seperti taman dunia, yaitu taman miniatur dunia yang dipenuhi dengan keindahan beragam etnis, budaya, dan agama. Istimewanya, karakteristik Indonesia tersebut masih kokoh tertopang oleh empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar itu menjadi konsensus final bagi bangsa Indonesia. Keempatnya merupakan harga mati untuk dipertahankan.

Revolusi Optimisme

ditulis Oleh : Rohmatikal Maskur

Apakah potensi terbesar yang dimiliki Indonesia? Sering kali pertanyaan tersebut dilontarkan. Ada yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada kekayaaan sumber daya alamnya (SDA), jika kita bisa memaksimalkan pengolahannya pasti Indonesia akan sejahtera. Ada juga yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada letak geografis dan kebudayaannya, jika kita bisa memaksimalkan pengelolaannya pasti pariwisata Indonesia mampu menjadi sumber kesejahteraan yang besar bagi Indonesia. Tidak berhenti disitu, ada juga yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada sumber daya manusianya (SDM), jika pendidikan di Indonesia berhasil melahirkan generasi emas, maka pasti Indonesia akan benar-benar sejahtera.

Sekolah Berbasis Kearifan Lokal: Peretas Pendidikan Yang Membebaskan

Karya: Mu’awanah

Arena pendidikan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dengan derajat tinggi. Dalam kondisi keterpurukan bangsa dan negara, pendidikan diharapkan menjadi andalan untuk bangkit melalui perubahan. Sayangnya, lembaga pendidikan masih menjadi bagian dari masalah nasional; Kurikulum yang tidak pernah konsisten, menyebabkan  tidak melihat latar belakang individual pendidik dan yang terdidik (murid). Masalah nasional tersebut juga disusul dengan  kurikulum yang masih terpusat, kastanisasi pendidikan sebagai akibat pendidikan mahal, serta sertifikasi yang membuat para pendidik (guru) gelap mata, bahkan membudayanya transaksi pendidikan.[1]

Merindukan Sistem Pendidikan Terintegrasi demi Terwujudnya Generasi Berkarakter


ditulis oleh : Mochamad Rifqi Alian

Hampir seabad yang lalu, seorang penulis dan wartawan muda yang prihatin terhadap kondisi bangsanya menulis sebuah artikel kontroversial yang dimuat dalam surat kabar De Expres. Als ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), menyiratkan kisah pilu kondisi masyarakat Indonesia di tengah keberlimpahan kekayaan alam yang dimiliki. Keterbelakangan pendidikan para pribumi mengusik keprihatinan sang penulis muda. Hingga pada tanggal 3 Juli 1922, sang penulis mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa. Ya, Ki Hajar Dewantara, dengan semboyannya yang begitu terkenal, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani, mengupayakan kesetaraan hak pendidikan bagi kaum pribumi. Hak memperoleh pengajaran, hak yang pada hakikatnya adalah asasi bagi setiap generasi di muka bumi ini.

Pendidikan Karakter, perlukah?

ditulis oleh : Lena Riana Sani

Pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup suatu bangsa. Pendidikan dasar karakter jadi modal utama pembentuk generasi muda suatu bangsa. karakter yang dimilikinya nanti akan ikut menentukan keberhasilan suatu bangsa di masa yang akan datang. Di samping keahlian yang dimiliki, karakter yang baik akan menjadi suatu penyeimbang dalam proses pembelajaran dan kehidupan nyata atau sosial.

Pendidikan untuk Mereka yang Tersisihkan

ditulis Oleh : Muwaffiqol Fahmi Al-muttaqin

Hembus angin sore mulai terasa menusuk tulang. Dingin. Letih sekali sejak tadi mengedarkan pandang ke kanan-kiri tak juga kutemukan alamat yang kucari. Pintu belakang angkot biru yang dibuka penuh membuat angin dengan leluasa memaksa bulu-bulu kulitku berdiri. Walaupun sudah dua tahun lebih aku tinggal di kota ini, tak pernah aku menghafal nama-nama jalan.

Aku dan Dunia Contek - Mencontek


ditulis Oleh : Jenny Rahayu

“Setitik langkah untuk berubah dan berbuah”
Geram, aku mendengar wacana perubahan dari berbagai pihak dan kalangan. Katanya, mau membenahi ini dan itu. Tetapi, semua sekadar wacana tanpa ada aksi nyata. Dunia pendidikan yang seharusnya membentuk karakter bangsa telah kehilangan arah. Karena faktanya, diri ini melihat dan merasakan esensi pendidikan belum sesuai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan Kita Tidak Dikotori Oleh Orang Lain Namun Oleh Kaum Pendidiknya

Oleh : I Komang Wisnu Budi Wijaya

            Saat ini pendidikan di Indonesia sedang diwarnai berbagai kasus yang mengarah pada kasus criminal seperti pembocoran soal dan jawaban UN oleh oknum guru dan kepala sekolah, penganiayaan oknum guru kepada murid dan pemerkosaan murid oleh oknum guru dan kepala sekolahnya sendiri. Kasus-kasus ini sudah tentu berpengaruh terhadap citra pendidikan di Indonesia yang nanti muaranya akan mengarah kepada kualitas pendidikan.

Pemuda Masa Depan

ditulis Oleh : Deni Setiadi
Tanggal 28 oktober merupakan hari sumpah pemuda. Sebuah sejarah yang memberikan bukti nyata peran pemuda dalam persiapan kemerdekaan sekaligus bentuk cinta sepenuhnya terhadap Negara republik Indonesia. Perjanjian dalam bentuk sumpah yang menyatakan satu kesatuan yaitu kesatuan republik Indonesia dalam segala aspek. Sebagai pemersatu dengan keanekaragaman yang dimiliki berupa bahasa, kebudayaan, suku, dll. Melihat banyaknya keanekaragaman tersebut dapat menimbulkan konflik bila tidak ada pemersatu, karena saling menonjolkan ego tiap daerah. Patut disyukuri lahirnya sumpah pemuda ini berdampak baik pada kesatuan utuh Indonesia. Pesimisme rakyat akan mendapatkan kemerdekaan sempat muncul, namun upaya pemuda dalam melakukan negosiasi praktis berupa sumpah membuka harapan Indonesia bisa merdeka.

Pendidikan Humanis dan Problematika Kemanusiaan


ditulis oleh :Aura Alifa Asmaradana

Sebagai sebuah negara yang sedang terus merintis demokrasi, Indonesia berkali didera masalah kekerasan terhadap kemanusiaan. Sayangnya, Indonesia tampak belum cukup sigap menghadapinya. Sampai saat ini, ada banyak kasus kemanusiaan yang diabaikan oleh instansi yang berwenang. Misalnya saja penculikan, penahanan dan penangkapan sewenang-wenang, serta penghakiman terhadap kaum tani dan nelayan di berbagai belahan Indonesia. Juga kejadian yang seringkali dianggap remeh, kecurangan pada pelaksanaan Ujian Nasional yang sudah banyak dipublikasikan media massa. Pembagian jawaban soal ujian oleh guru dan pencontekan massal bukanlah masalah sederhana. Itu adalah masalah pengabaian nilai-nilai kemanusiaan. Besar kemungkinan, jika hal itu dibiarkan akan menumbuhkan perilaku koruptif dan penindasan yang merugikan masyarakat luas.

Pendidikan Karakter dan Kemajuan Bangsa


 ditulis Oleh : Abdushshabur Rasyid Ridha


“Pendidikan karakter itu tak sekedar dipelajari tetapi dipraktekkan”
Hari itu adalah hari pertama saya masuk kuliah, sebagai mahasiswa baru ekspektasi saya saat itu adalah akan mendapatkan ilmu yang baru yang mungkin belum pernah diajarkan saat dimasa SMA. Namun, mata kuliah di hari pertama saya kuliah saat itu adalah sejenis mata pelajaran bimbingan konseling saat di SMA.
Awalnya saya kecewa karena pada saat itu mata kuliah pengembangan kepribadian diri seperti ini hanya dianggap sekedar formalitas saja tanpa ada implementasi yang nyata di kehidupan sehari-hari. Sehingga upaya diadakannya mata kuliah seperti ini justru menjadi mata kuliah yang anggap remeh oleh banyak mahasiswa dan juga dinilai tidak efektif untuk diterapkan di sebuah perguruan tinggi.
Jika sudah begini apakah nantinya jenis mata kuliah seperti ini akan berjalan efektif dan berdampak bagi peserta didiknya? Jawabannya kembali kepada bagaimana sistem dari pihak sekolah atau kampus yang menyelenggarakannya. Seperti yang telah diterapkan oleh beberapa kampus ternama, mata kuliah ini adalah wajib hukumnya. Harapannya sederhana, yaitu agar mata kuliah seperti ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Tujuan Penting Pendidikan Karakter
“Mereka (mahasiswa) hanya bisa beretorika, aksinya hanya di mulutnya saja. Tanpa ada solusi nyata.”
Cibiran seperti ini biasanya datang dari kalangan eksternal mahasiswa, merekalah yang memperhatikan sekumpulan orang yang katanya generasi penerus bangsa. Mahasiswa sebenarnya merupakan tolak ukur dari pandangan masyarakat awam terhadap para mahasiswa sendiri. Jika mereka berpendapat bahwa mahasiswa hanya sekedar beretorika di mulutnya saja. Mereka tahu apa yang yang harus mereka katakana tetapi dianggap tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Maka mahasiswa kini harus mampu membuktikan potensi mereka yang sebenarnya. Mereka harus menunjukkan bahwa mahasiswa adalah benar-benar sekelompok manusia intelektual yang memiliki karakter dan integritas di dalam dirinya.
Jika kembali merujuk kisah yang dijelaskan pada alinea pembuka, ada pertanyaan yang kemudian muncul ke permukaan. Lalu apa sebenarnya tujuan yang diinginkan dengan diadakannya jenis mata kuliah pendidikan karakter?
Di dalam Undang Undang (UU) Nomor 20 tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya pendidikan karakter untuk menunjang kemajuan peradaban suatu bangsa tersebut.
Secara konteks yang ideal pendidikan karakter, nilai-nilai utama yang diajarkan dalam pendidikan karekter itu sendiri terdiri dari 9 prilaku positif yang saling berkaitan, yaitu: responsibility (tanggung jawab), respect (rasa hormat), fairness (keadilan), courage (keberanian), honesty (kejujuran), citizenship (kewarganegaraan), self-discipline (disiplin diri), caring (rasa kepedulian), dan perseverance (ketekunan).
Sebenarnya betapa penting tujuan yang diharapkan dari diadakannya mata kuliah pendidikan karakter ini. Dengan demikian mahasiswa harusnya mampu memposisikan dirinya sebagai agen of change di mata masyarakat, bukan sebagai trouble maker. Mahasiswa harus berperan nyata dan mampu berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan-kegiatan positif untuk masyarakat. Selain itu juga mahasiswa benar-benar mampu mengimplementasikan nilai tri darma perguruan tinggi yang diinternalisasikan melalui pendidikan karakter itu sendiri.
Setiap mahasiswa yang mendapatkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam dirinya tentu ia menyadari bahwa hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu setiap hal yang ia dapat dari sebuah pendidikan karakter ketika telah tertanam dalam dirinya, tentunya nilai-nilai tersebut akan ia terapkan juga dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial.
Kunci Kemajuan Peradaban
Terinspirasi dari pernyataan seorang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef ia mengatakan, “Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa yang maju, yang tidak didukung pendidikan yang kuat”. Ia juga mengatakan untuk menjadi negara yang kuat, maju dan disegani dunia internasional, maka Indonesia harus menjadikan pendidikan sebagai bidang unggulan.
Kemudian muncul pertanyaan, setelah melaksanakan pendidikan berkarakter lalu bagaimana? Pendidikan karakter itu bukan hanya dipelajari tetapi juga diimplementasikan, namun pada akhirnya tidak semua orang dapat mempraktekan pendidikan karakter yang ia pelajari dalam kehidupannya sehari-hari. Apapun yang terjadi, yang pasti hal itu jauh lebih baik dibandingkan Indonesia tidak melakukan upaya pendidikan karakter sama sekali.
Karena kenyatannya berkarakter saja belum cukup, dibutuhkan juga sebuah integritas untuk menjadikan seseorang sebagai pribadi yang mampu memajukan bangsa di masa depan. Satu orang berkarakter mungkin tak akan mampu memperbaiki kualitas suatu bangsa. Sehingga, kita juga harus ingat bahwa sebuah bangsa yang maju itu hanya bisa dibangun oleh sekumpulan manusia berkarakter yang bergabung menjadi satu.
Pada hakikatnya karakter yang diimplementasikan dimiliki satu individu itu mempunyai efek menular, layaknya virus ia akan menyebarkan nilai-nilai positif tersebut kepada masyarakat di sekitarnya. Sehingga dari kumpulan orang-orang berkarakter tersebut nantinya akan muncul sekolompok orang yang akan berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Setiap orang mungkin saja memahami bahwa pendidikan karakter memang menjadi salah satu kunci penting untuk menunjang kemajuan bangsa. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka seakan sulit untuk bisa menerima bahwa mereka juga harus menjadi bagian dari arus pendidikan karakter yang nantinya akan mampu memajukan Bangsa.
Maka dari itu, mahasiswa saat ini harus mulai mempersiapkan diri untuk mampu berada pada posisi strategig guna menjadi role model perubahan dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat di masa yang akan datang. Dan nantikanlah bahwa mahasiswa akan membuktikan bahwa pendidikan karakter nantinya akan mampu membawa Garuda lepas landas menuju peradaban yang baru.

Keprofesionalan Pendidik Karakter Siswa (Guru) Jangan Diukur Dari Embel-Embel Sertifikasi

ditulis oleh : Yeni Eka Surya

...Wahai kaum guru semua, bangunkan rakyat dari g’lita, Kita lah penyuluh bangsa, pembimbing melangkah ke muka
Insyaflah ‘kan kewajiban kita, mendidik mengajar pra’putra, Kita lah pembangun jiwa, pencipta kekuatan negara...

Dari syair MARS PGRI di atas pun juga bisa kita simpulkan bahwa tugas seorang guru adalah mendidik bukan mencari materi sebanyak-banyaknya. Menjadi guru yang benar-benar berkualitas, dan berharap agar anak didiknya dapat meneruskan cita-cita bangsanya.
Guru juga diibaratkan pahlawan tanpa tanda jasa dalam dunia pendidikan. Perannya dalam pendidikan bukan semata-mata sebagai pemberi nilai dalam rapor, atau menjadi panitia ketika ada ulangan, juga bukan hanya sebagai pemberi peringkat bagi anak didiknya yang berprestasi di kelas. Jasanya yang begitu besar dalam memberikan pengajaran dan pelajaran tidak semata-maka agar anak didiknya mendapat pengetahuan yang nantinya bermanfaat sebagai pedoman di masa depan, ia juga tidak hanya meluluskan dan memberi pengajaran dan memberi nilai bagi anak didiknya yang mampu memenuhi kriteria kelulusan. Akan tetapi, ia ingin anak didiknya nanti tidak terpengaruh dengan hal-hal berbau negatif, jika kelak ia dewasa, ia tidak akan merasakan penyesalan dalam setiap langkahnya.
Bagaimana guru mengajar pastilah berpengaruh terhadap prestasi muridnya. Misalnya saja seorang guru mengajarkan kepada muridnya dengan senang hati, ramah tamah dan bisa memposisikan siapa dia. Layaknya seorang dokter, guru adalah sosok yang berperan sebagai dokter pendidikan. Ia merupakan penyembuh dari kebutaan aksara dan kepincangan pengetahuan. Walau tidak secara penuh peran seorang guru adalah sebagai penyembuh dari hal tersebut,  guru merupakan faktor penting yang pasti akan selalu dibutuhkan dalam kehidupan.
Dewasa ini, guru profesional dianggap guru yang bisa mendapatkan sertifikasi, dan yang mendapat sertifikasi tersebut adalah guru yang benar-benar berpretasi. Selain itu, guru yang mendapat sertifikasi dianggap mampu menjadikan siswanya berprestasi secara akademik maupun non-akademik dibuktikan dengan piagam yang dilampirkan di data form sertifikasi. Tapi apa itu bisa menjamin? Hal ini yang perlu menjadi tanda tanya apakah semua itu dapat dipertanggung jawabkan kedepannya? Apa sertifikasi tersebut benar-benar murni dari prestasi guru atau sebatas mencari tambahan materi?
Sertifikasi tersebut membuat honor seorang guru menjadi bertambah, terlebih lagi pemerintah yang terlalu berbaik hati mengadakan sebuah wahana yang sering disebut “ Gaji ke-13 “ di mana seorang guru mendapatkan tambahan gaji yang sama setahun sekali. Tapi apakah semua itu bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat? Lalu bagaimana nasib seorang guru yang berada di daerah terpencil? Apa mereka mendapatkan perlakuan yang sama dan fasilitas yang sama dengan guru yang berada di daerah yang layak dan mempunyai keterjangkauan yang luas akan informasi, teknologi dan sarana prasarana?
Yang perlu digarisbawahi adalah guru profesional bukanlah guru yang berhasil mendapatkan sertifikasi yang diberikan oleh pemerintah, tapi guru profesional adalah guru yang mampu menyesuaikan posisinya di mata siswa-siswanya. Bagaimana keadaan siswa-siswanya, bagaimana atmosfer di dalam kelas, dan bagaimana siswa itu ingin dibimbing, misalnya belajar dalam ruangan (in door) atau di luar ruangan (out door). Seorang guru tidak boleh mementingkan kepentinganya saja, misalnya ia tidak mematikan handphonenya pada saat pelajaran, tentunya siswa yang mendapat perlakuan untuk mematikan handphonenya akan menerka-nerka dengan apa yang sudah dikatakan gurunya. Diibaratkan seperti asas courtesy dalam sebuah perjanjian internasional, yaitu asas yang berintikan untuk saling menghormati, karena menghormati tidak hanya digunakan untuk yang lebih tua, tapi semua manusia baik dari yang balita sampai lanjut usia.
Guru akan mendapat respon yang baik dari anak didiknya ketika seorang guru dapat  berperan multi. Guru akan menjadi teman sekaligus pengajar. Dikatakan sebagai teman, guru tidak hanya mengajar secara monoton, tapi mengerti dengan kondisi, masalah dan kemauan anak didiknya. Tidak selalu monoton hanya memberikan pengajaran, memberikan pekerjaan rumah dan tugas kelompok yang begitu banyaknya. Akan tetapi, seorang guru bisa menjadi partner atau rekan tempat berbagi kisah dari anak didiknya. Guru bisa dijadikan tempat curhat ( curahan hati ) di luar jam pelajaran. Di samping itu, guru bisa memberikan pemecahan masalah walau tidak seratus persen saran dari guru tersebut dapat menyelesaikan permasalahan anak didiknya. Paling tidak, saran dari guru tersebut sedikit demi sedikit mengurangi beban yang ditanggung oleh anak didiknya.
Guru juga dianggap sebagai orangtua di sekolah, adakalanya ketika ada anak didiknya yang merasa jenuh dan bosan akan tingkah dan laku orangtuanya di rumah, ia pasti akan beralih kepada guru yang ia anggap paling disenangi. Ia pasti lebih merasa nyaman berada di dekat gurunya daripada orangtuanya sendiri. Mungkin karena ia merasa kurang akan perhatian orangtuanya di rumah atau sebab lain. Hal ini bisa dijadikan peluang untuk membujuk anak didiknya agar ia tidak bersikap seperti itu, pendekatan ini yang akan membuat anak didiknya merasa nyaman di dekat gurunya.
Menjadi guru profesional bukan hal yang tak mungkin untuk dimiliki dalam jiwa masing-masing guru, sebuah keyakinan untuk menjadi media penyalur pengetahuan bukan sebagai mesin uang ( sebatas mencari materi ) adalah hal yang utama untuk ditanamkan. Tidak hanya memandang sebelah mata guru-guru yang ada di pinggiran desa atau di desa terpencil saja, siapa tau daya berpikir mereka justru lebih tinggi daripada guru yang ada di kota. Guru profesional bukan kaya akan materi, tapi kaya akan hati. Selain itu, ia juga bisa menjadi guru bagi setiap orang yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Apa  salahnya? Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa setiap orang di segala umur ingin belajar dan belajar agar tidak terbutakan oleh perkembangan jaman.
Seorang guru profesional tidak pasti dapat dilihat dengan embel-embel guru bersertifikasi, bahkan bisa guru yang tidak bersertifikasi jauh lebih baik daripada guru yang bersertifikasi. Jangan menilai dari apa yang digelarkan, akan tetapi bagaimana ia direspon dan pengaruhnya terhadap prestasi khalayak sesungguhnya. Tak hanya
Jika boleh memilih, lebih baik menjadi guru yang berguna dan mempunyai pengabdian daripada guru yang hanya bermodal gelar dan bergaji besar, walau memang gaji yang besar adalah idaman seorang guru yang menganggap jerih payahnya tak bisa diukur dengan uang. Sesungguhnya, tanggung jawab itu tidak hanya di depan umum akan tetapi kepada Tuhan. Motivasi sebagai seorang guru bukanlah hanya mendapat bayaran dan seperti yang ada sekarang, mendapat sertifikasi sehingga balas saja yang aku dapat lebih dari sekedar memenuhi kebutuhanku. Akan tetapi, negara ini membutuhkan guru yang benar-benar guru akan negara ini mampu bersaing seperti dulu. Malaysia dahulu mengimpor guru dari Indonesia, tapi sekarang semuanya serba terbalik.
Menjadi guru hendaklah tulus dan ikhlas, dan berusaha menjadi peran yang disukai oleh siswanya. Bukan mendapatkan stereotip “guru galak” atau cap lain yang dilayangkan oleh siswanya. Sebagai pendidik karakter, tentunya guru berperan aktif. Untuk masa berjuang sebelum diangkat PNS, hendaknya guru juga mempunyai rasa atau jiwa pendidik. Jiwa pendidik tersebut juga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti salah seorang pengajar sekolah hutan di Kalimantan, yang mengabdikan dirinya menjadi tenaga pendidik yang berjiwa luhur.