Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pendidikan di Daerah Terpencil

Tidak Selamanya Yang Terpencil Itu Terbelakang

oleh : Hardiat Dani Satria Membicarakan pendidikan memang sesuatu yang ironis. Bisa dikatakan, banyak orang menganggap pendidikan itu sebagai keharusan dan pencapaian yang sangatlah penting. Tidak jarang yang menjadikan pendidikan itu sebagai sarana prestis semata untuk meningkatkan status sosial. Pendidikan sekarang yang berkualitas hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berduit. Saya yakin banyak yang berharap bahwa pendidikan dapat mengubah nasib dan meninggikan status ekonomi. Apakah seperti itukah tujuan dari pendidikan?. Dengan demikian sama saja pendidikan sebagai sarana ajang peningkatan prestis dan pencari ijazah saja.

Kecilnya Arti Pendidikan di Daerahku Yang Terpencil

oleh : Philip Anggo K Begitulah hal yang  ada di benak saya ketika melihat kembali pada kenyataan pendidikan formal desa saya. Benar jika saya mengatakan bahwa desa saya adalah desa yang kecil. Secara geografis dapat dilihat dalam peta atau google map letak dari desa saya. Jika melihat map dari provinsi DIY maka coba sedikit melirik ke pojok kanan bawah dari map, disitu akan ada sebuah kabupaten yang tidak asing lagi namanya, kabupaten Gunungkidul. Setelah itu mari coba melirik lagi ke pojok kanan bawah sekali lagi, disitu akan terdapat suatu kecamatan bernama Rongkop. Di kecamatan tersebutlah saya tinggal dan memulai awal pendidikan saya mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Namun marilah menengok sekali lagi map kita dan kita masukkan sebuah kata dalam pencarian map dengan kata “Botodayaan”, maka kita akan menemukan suatu daerah yang ketika dilihat dari mata map sebagai tempat yang dipenuhi bukit di setiap sudut map.

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan Di Daerah Terpencil

oleh : Partin Nurdiani Pendidikan merupakan wadah penting yang menjadi titik krusial pembentukan mental, spititual, sekaligus intelektualitas bagi generasi bangsa. Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang tidak ada habisnya. Mulai dari prestasi-prestasi anak didik kita di tingkat nasional maupun international hingga rendahnya kualitas pendidikan di daerah terpencil. Masih kurangnya sarana dan prasarana dan kualitas pengajarnya yang pas-pasan menjadi salah satu faktor penyebab pendidikan di daerah terpencil terkesan tertinggal. Sehingga kemajuan pendidikan di Indonesia hanya terpusat di daerah perkotaan sedangkan di daerah terpencil kurang diperhatikan. Tak jarang kurangnya perhatian pemerintah itu mengesankan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum benar-benar adil seperti apa yang tercantum dalam UUD 1945.

“Kami” Butuh Pendidikan

oleh :Nurdianah Fitri Mendapatkan pendidikan adalah hak bagi setiap anak. Seperti yang kita tahu, banyak anak-anak di daerah pelosok atau terpencil yang tidak mendapatkan pendidikan sekolah. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah, ditambah lagi bagi mereka yang kurang mampu, biaya pendidikan itu tidaklah murah. Beberapa faktor lagi yang membuat mereka enggan untuk sekolah adalah sarana transportasi dan jauhnya jarak sekolah dari tempat tinggal mereka. Sekolah di daerah-daerah memang jauh dari pemukiman masyarakat dan dari segi jumlah masih perlu penambahan.

Inilah Aku, Kamu Dan Kita

oleh : Nosta Perlin N “Sekolah itu bukanlah segalanya. Tanpa sekolah, kamu masih bisa hidup”. Sebuah kalimat yang sering di ucapakan oleh kedua orang tua ketika anaknya beranjak memasuki usia sekolah. Anak-anak di Nias tidak pernah menolah dan selalu menggangguk menandakan bahwa mereka setuju.             Anak di Nias yang sudah berumur 6 sampai 7 tahun sudah terbiasa mandi di sungai deras sendirian. Dengan gesitnya anak-anak tersebut cepat-cepat kembali kerumah, berpakaian dan berangkat sekolah. Tanpa mobil, tanpa angkot dan sepeda. Mereka  berjalan kaki walaupun sekolahnya berjarak ratusan meter. Keadaan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan anak di kota besar yang sudah terbiasa dengan istilah “antar jemput”. Angkot, becak dan angkutan umum bertebaran dimana-mana.

Dimanapun Kaki Berpijak, Berkontribusilah untuk Pendidikan

oleh : Karina Octavira Seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh tahun berlari sembari menjinjing tasnya. Namanya Nina, anak perempuan yang tinggal tidak jauh dari kontrakan saya di Samarinda. Ia memakai pakaian yang sebelumnya belum pernah ia pakai lagi entah sejak kapan. Hari ini hari pertamanya sekolah, setelah sekian lama tidak merasakan suasana sekolah. Dulu, ia sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar di Jawa sebelum pindah ke Samarinda, Kalimantan Timur, namun putus sekolah tanpa sempat naik kelas. Tak sekolah sekitar satu tahun, saya dan teman-teman kerap membantunya belajar, walaupun sekadar membaca, mengenal huruf, menulis, dan berhitung. Kenapa ia tidak melanjutkan pendidikannya di Samarinda? Alasannya karena masalah administrasi di sekolah lama yang menyulitkannya untuk melanjutkan sekolah. Tapi sepertinya bukan karena itu saja, mungkin juga karena orang tuanya.

Buka Mata

oleh : Dwi Yulianti Pendidikan adalah hal yang memiliki peran penting didalam perkembangan dan kemajuan sebuah bangsa. Karakter sebuah bangsa dibentuk melalui pendidikan. Hanya bangsa dengan tingkat pendidikan yang baiklah yang mampu membentuk karakter kuat dalam tubuh bangsanya. Melalui pendidikan yang baiklah kemudian lahir generasi bangsa yang cerdas secara akademik, moral serta emosi. Melalui pendidikan pula lahir lah generasi bangsa yang tidak akan dengan mudah tergerus oleh zaman dan pengaruh buruk dari luar. Begitu pentingnya pendidikan sampai–sampai pada saat peristiwa jatuhnya bom Hirosima dan Nagasaki pemerintah Jepang memerintahkan para tentaranya untuk segera menemukan para guru yang masih hidup. Negara Jepang pada saat itu, sadar betul bahwa hal dasar yang dibutuhkan untuk kembali membangun bangsanya bukalah hanya uang dan materi melainkan ilmu yang dapat diperoleh melalui pendidikan.

Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan melalui Pendidikan

Oleh: Doriani Lingga Kemiskinan merupakan masalah klasik yang dialami oleh hampir setiap negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Sulitnya mengatasi masalah kemiskinan turut memperkeruh keadaan, hingga kemiskinan seolah menjadi suatu masalah yang tak kunjung menemui titik akhir. Indonesia sebagai salah satu negara yang juga masih berjuang mengatasi masalah kemiskinan turut menghadapi persoalan yang sama. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memerangi kemiskinan, diantaranya ialah pemberian bantuan materil seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), subsidi pangan untuk masyarakat miskin, pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) dan program IDT serta Kukesra/Takesra yang merupakan pemberian modal bergulir sebagai hibah dan pinjaman/kredit mikro.  Namun tampaknya upaya tersebut belum mampu memberikan hasil yang diharapkan. Angka kemiskinan di Indonesia tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 ju...

Terdepan Juga Terbelakang : Sebuah Potret Pendidikan di Daerah Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia

ditulis Oleh : Irwin Septian Dewasa ini telah lama kita ketahui pendidikan merupakan aspek yang penting dalam kehidupan manusia, semua hal dapat terungkap dan dijelaskan dengan adanya pendidikan. Tanpa pendidikan, mungkin bumi ini akan banyak dipenuhi orang-orang yang tak berakal dan perusak. Pemerintah pun telah gencar mempromosikan kepada warga negaranya agar dapat sekolah hingga minimal jenjang SMP (Wajib Belajar 9 tahun), kenapa pemerintah begitu perhatian sekali dengan pendidikan ? bahkan 20% APBN kita diambil hanya untuk pendidikan. Mestinya dengan dana begitu besar kita harus lebih maju dan bisa sejajar dengan negara lain.

Yang Terpencil Makin Terkucil

ditulis oleh :  Wahyu Romadhon       Bangsa yang kuat adalah yang memiliki pemimpin yang hebat. Maksud dari kalimat tersebut adalah jika ingin menjadi bangsa yang kuat maka bangsa tersebut harus memiliki pemimpin yang berani dalam menegakkan keadilan terhadap bawahannya atau lebih dikenal dengan rakyat. Pada zaman modernisasi sekarang  Ini sangat sulit untuk mencari pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa keadilan yang tinggi. Setiap kali mereka berkampanye mereka selalu berkata”pembangunan dan pendidikan akan kita bangun secara merata dari kota sampai ke desa”. Namun, setelah mereka terpilih pendidikan hanya  dipusatkan didaerah perkotaan, sedangkan pedidikan didaerah terpencil yang mana gedung-gedung sekolahannya dibiarkan porak-poranda. Kejadian ini sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di kota, dimana sekolah-sekolah tersebut rata-rata  bertingkat dan ber-AC. Jadi, apakah pemimpin negeri ini sudah adil??? Jawaba...

Pemerataan Pendidikan di Daerah Terpencil sebagai Tanggung Jawab Pemuda bagi Bangsa

oleh ;  Muhammad Fahdillah Fahmi Dalam pencapaian tujuan bersama suatu negara harus memiliki langkah serius untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Negara yang mampu mengelola potensinya maka akan mampu mendorong terwujudnya tujuan negara tersebut. Dalam konteks ini setiap negara tidak ada yang miskin, yang ada hanyalah negara yang terkelola dengan baik atau salah kelola. Perkembangan saat ini justru memperlihatkkan bahwa negara – negara dengan potensi sumber daya alam yang rendah adalah yang menguasai perekonomian saat ini dan dipandang maju. Paradigma inilah yang perlu kita pahami bahwa sumber daya alam tidak akan banyak berpengaruh tanpa disokong oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

Dilema Masyarakat Sedulur Sikep: Pendidikan Yang Membuka Lembaran Trauma Sejarah

ditulis Oleh : Weni Mardi Pendidikan adalah tonggak utama kemajuan sebuah negara, karena itu tidak heran jika di Indonesia ada undang- undang nomor 20 ayat 1 sampai 4 tahun 2003 yang mengatur tentang sistem pendidikan nasional. Dan berdasarkan undang- undang 20 (1) tahun 2003 tertera bahwa setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Akan tetapi undang- undang tersebut tidak sepenuhnya bisa diberlakukan karena   beberapa hal seperti biaya pendidikan yang mahal, kurangnya jumlah guru yang berkompeten, fasilitas yang tidak memadai dan penolakan dari sejumlah komunitas adat di daerah terpencil yang belum merasakan pentingnya pendidikan formal. Salah satu dari komunitas adat yang menolak memberikan pendidikan formal bagi anak- anak mereka adalah komunitas sedulur sikep (juga dikenal sebagai kaum samin oleh masyarakat luas).

Kedaulatan Program Pendidikan Indonesia

ditulis oleh : Tri Sintya Kepulauan nusantara yang terbentang dalam keberagaman wilayah geografis menjadikan Indonesia kaya akan berbagai hal, baik sumber daya alam, bahasa, ataupun budaya. Namun disisi lain, kelebihan tersebut mampu menjadi permasalahan pelik apabila tidak dapat disikapi atau dikelola dengan bijak oleh berbagai pihak negeri ini.