Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Bedah Buku

Beberapa Catatan Terhadap Isi Buku Karya K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie “Pedoman Pendidikan Modern” dan Kaitannya dengan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional Pada Saat Ini

Oleh Prof. Dr. H. Soedijarto, MA I.           Buku K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie Tentang Pedoman Pendidikan Modern sebagai Fenomena Sejarah Pendidikan Indonesia Adanya buku yang ditulis 78 tahun yang lalu dan mengupas semua elemen dari pendidikan seperti kedudukan pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan, pembagian pendidikan, jenis-jenis pendidikan (pendidikan tubuh dan rohani, pendidikan budi pekerti), pendidikan rumah tangga, pendidikan sekolah, hubungan antara rumah tangga dengan sekolah, kewajiban orang tua terhadap anaknya yang menjadi murid sekolah, cara mendidik, pendidikan sosial, pendidikan kepanduan, dan pendidikan pemuda, merupakan fenomena sejarah yang luar biasa . Karena pada saat itu, para tokoh pergerakan seperti Soekarno dan Mohammad Hatta sedang berada di pembuangan, dan rakyat pribumi yang menikmati pendidikan modern seperti HIS seperti yang diiikuti K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie sangatlah terbatas, ...

Prof Soedijarto

Nama beliau cukup singkat, Soedijarto. Guru besar UNJ ini telah banyak berkiprah di dunia pendidikan Indonesia. Sebagian besar aktifitas kehidupannya didedikasikan untuk kemajuan pendidikan. Pelbagai pemikiran, gagasan dan harapannya seputar kemajuan pendidikan dapat kita temukan dalam berbagai Buku , makalah, karya tulis di media massa maupun sepak terjangnya dalam mengkritisi berbagai persoalan pendidikan melalui organisasi ISPI dan CINAPS. Saat ini beliau menjadi "nakhoda" Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang didirikan pada 17 Mei 1960 di Jakarta. Dibawah kepemimpinan beliau ISPI berkembang dan aktif dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. 

TOR Bedah Buku Pedoman Pendidikan Modern

Pendidikan Indonesia hari ini dibangun dengan dasar yang tidak jelas pijakanya. Pendidikan bukan lagi menjadi sarana untuk membentuk peradaban manusia yang berakhlak. Pendidikan lebih diarahkan dalam konteks ekonomi. Komersialisasi pendidikan terus mendapatkan legalitas di atas Undang - undang pendidikan. Padahal pendidikan adalah kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat indonesia. Pendidikan telah terputus dari sejarahnya. Tongkat estafet para tokoh pendidikan yang membangun Indonesia. Telah dihilangkan, dicampakkan dan dibiarkan, karyanya menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Tidak terhitung lagi berapa banyak literatur – Literatur klasik Indonesia yang disita dan dibakar pada zaman Penjajahan Inggris dan Belanda. Tidak jarang Belanda lebih banyak memilki dokumen – dokumen penting Indonesia dibandingkan Indonesia sendiri.

Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA

Nama/name : Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA Orang tua/parent : Drs. H. Rusdy Bey Fananie bin KH. Zainuddin Fananie (Pendiri Pondok Modern Gontor- Ponorogo, JATIM). Ibu/mother: Hj. Kiki Zakiah binti H. Zaini Meki Istri/wife : Deasy Indriani, SE. Place/date of birth : Jakarta, 13 November 1967 Agama/religion : Islam PENDIDIKAN/EDUCATION 2008   : Pendidikan Lemhannas RI, PPRA XLII 2008 1994 – 1997 : (S2) MA at the faculty of Theology and Art in INIS Master of Art Program, RijksUniversiteit Leiden, Nederland with a thesis : Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh. 1992 – 1993 : Faculty of Political Science, Government College, Punjab University, Lahore, Pakistan. 1990 – 1992 : (S1) History & Islamic Studies (Bachelor of Art), at University of The Punjab, Lahore Pakistan. 1989 – 1990 : English Departement (Certification), at National Institute of Modern Languages (NIML), Qu’aidi Azam Ali Ji...

Menuju Pembelajaran Transformatif

[...] sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah, mereka dilatih mempelajari gagasan dan pengetahuan formal dari “luar sana” sebagai jawaban atas segala persoalan mereka, bahkan lebih berbahaya lagi, sebagai tujuan, sebagai hidup yang ideal. (Nurhady Sirimorok, 2010: 201) Upaya untuk mengimplementasikan sebuah mazhab pemikiran dan praksis pendidikan yang ditujukan untuk transformasi sosial pada mulanya memang lebih banyak dilakukan di luar sistem pendidikan formal persekolahan  (schooling),  sasarannya juga pada mulanya lebih banyak dari orang dewasa  (adult),  hal ini terjadi misalnya ketika Paulo Freire mulai menggerakkan praksis pendidikan pembebasannya untuk masyarakat petani, buruh, dan kaum terpinggirkan-tertindas lainnya di Brazil pada tahun 1960 dan 1970-an.

KH. R. Zainuddin Fananie

KH.R. Z.Fananie: Biografi Singkat KH. R. Zainuddin Fananie lahir di Gontor Ponorogo Jawa Timur pada tanggal 23 Desember 1905. Putera keenam Kiyai Santoso Anom Besari. Silsilah KH. R. Zainuddin Fananie terhubung dengan Kiyai Tegalsari, Khalifah Hasan Besari. Kiyai Khalifah Tegalsari mengambil menantu Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin, keturunan ke-IV Keraton Cirebon. Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin mempunyai putera Kiyai Archam Anom Besari. Kiyai Archam Anom Basari mempunyai putera Kiyai R. Santosa Anom Besari yang bertempat tinggal di Ponorogo, Gontor, Jawa Timur. Istri Kiyai R. Santosa Anom Besari, Bu Nyai Santosa Anom Besari, merupakan keturunan Kanjeng Bupati Surodiningrat. [1] Pasangan inilah yang melahirkan KH. R. Zainuddin Fananie.

Sumbangsih untuk Membentuk Karakter Bangsa

Oleh: Drs. Husnan Bey Fananie, MA. Cetak ulang buku “Pedoman Pendidikan Modern” karya KH. R. Zainuddin Fananie yang telah pernah diterbitkan pada tahun 1934 ini diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi upaya mewujudkan pendidikan karakter di Indonesia. Seperti kita ketahui hal ini tengah gencar-gencarnya digagas oleh para ahli pendidikan kita akhir-akhir ini.

Sang Pengandjoer van Gontor

" Kita mesti bergerak, geraknja gerak madjoe, madjoe berlomba-lomba, ke arah ketinggian, kegembiraan, kesentosaan Islam dan pemeloeknya. Mesti bergerak kata kita, karena memang semata-mata wadjib mendjoendjoeng tinggi perintah Toehan Rabboel ‘Izzati " (KH. R. Z. Fananie,  Buku Sendjata Pengandjoer dan Pemimpin Islam) . SEJATINYA, ruh sebaris kalimat dalam satu paragraf di atas memberikan lecutan semangat yang sangat keras. Semangat yang dikobarkan kepada setiap anak bangsa saat itu agar terus bergerak melakukan perubahan untuk memancangkan keluhuran Islam dan kesejahteraan pemeluknya. Barisan kalimat pada paragraf di atas, boleh jadi merupakan keluh kesah dan ungkapan hati sang penulis atas fenomena yang terjadi saat itu. Kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan umat Islam akibat penjajahan berabad-abad, kala itu, memang mutlak menjadi perhatian sang penulis yang juga dikenal sebagai salah seorang pemimpin umat yang concern di dunia keislaman, pergerakan, sosial, dan...