Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pendidikan dan Karakter Bangsa

Beberapa Catatan Terhadap Isi Buku Karya K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie “Pedoman Pendidikan Modern” dan Kaitannya dengan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional Pada Saat Ini

Oleh Prof. Dr. H. Soedijarto, MA I.           Buku K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie Tentang Pedoman Pendidikan Modern sebagai Fenomena Sejarah Pendidikan Indonesia Adanya buku yang ditulis 78 tahun yang lalu dan mengupas semua elemen dari pendidikan seperti kedudukan pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan, pembagian pendidikan, jenis-jenis pendidikan (pendidikan tubuh dan rohani, pendidikan budi pekerti), pendidikan rumah tangga, pendidikan sekolah, hubungan antara rumah tangga dengan sekolah, kewajiban orang tua terhadap anaknya yang menjadi murid sekolah, cara mendidik, pendidikan sosial, pendidikan kepanduan, dan pendidikan pemuda, merupakan fenomena sejarah yang luar biasa . Karena pada saat itu, para tokoh pergerakan seperti Soekarno dan Mohammad Hatta sedang berada di pembuangan, dan rakyat pribumi yang menikmati pendidikan modern seperti HIS seperti yang diiikuti K. H. R. Zaenuddin Bey Fananie sangatlah terbatas, ...

Menghitung yang Satu, Melupakan yang Seribu

oleh : Edi Subkhan (juri Esai SIA20120) Coba kita ingat-ingat dan lihat-lihat latar kehidupan sekeliling kita lebih jeli, tidak usah jauh-jauh tatap saja layar televisi kesayangan “kita” (hmm..), tiap detik kita disuguhi oleh aktivitas menghitung yang satu dan melupakan yang seribu. Apa maksudnya? Bukannya ingin berfilosofi, tapi saya ingin coba masuk pada arena perdebatan ideologis dari pintu yang berbeda dan semoga tidak membuat pusing atau tambah bingung. Begini saudara-saudara! (hehe…) Beberapa waktu lalu ada acara pada salah satu televisi swasta yang disebut Indonesia Mencari Bakat (IMB). Yah semacam kontes idol-idolan, dulu ada yang namanya Indonesian Idol (RCTI), Kontes Dangdut Indonesia (TPI), Akademi Pelawak Indonesia (TPI, sekarang TPI sudah almarhum), dan banyak lagi lainnya. Dari beribu-ribu peserta yang mendaftar Indonesia Mencari Bakat misalnya, hanya dipilih beberapa kelompok yang harus unjuk gigi menghibur pemirsa hampir tiap hari.

Andai aku seorang Belanda

Dalam surat –surat kabar, kini secara ramai-ramai dianjur-anjurkan , supaya diadakan perayaan di Hindia Belanda ini, perayaan kemerdekaan Nederland seratus tahun, rupa-rupanya segenap penduduk negeri ini diharuskan mengetahuinya, bahwa tepat dalam bulan November y.a.d ini Nederland menjadi kerajaan kembali dan rakyatnya menjadi bangsa lain merdeka dan berdaulat, sekalipun dalam barisan Negara-negara yang merdeka berdiri paling belakang. Di pandang dari sudut pengertian yang layak, memang dapatlah orang membenarkan hajat merayakan peristiiwa nasional yang tersebut itu,bukankah seharusnya kita menghargai kecintaan dan penghormatan orang-orang Belanda terhadap negerinya sendiri, dengan phlawan-pahlawannya?! Peringatan yang dimaksud adalah wujud rasa kebangsaan, bahwa satu abad yang lalu Nederland berhasil melemparkan penjajahan asing dan menjadi suatu bangsa sendiri..

Anak Muda, Masihkah Antusias Berbahasa Indonesia?

Oleh: Ryandy Dwian Suchendar KOMPAS.com  —   "Kami, putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia...." Secara sosiologis, bahasa Indonesia lahir dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Hingga kini, kosakata bahasa Indonesia kian bertambah melalui serapan bahasa asing dan daerah. Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu sebelumnya telah dikenal oleh banyak negara asing melalui perannya sebagai  lingua franca  pada abad ke-14.

Menggugat Civitas Akademika Kampus untuk Mempertahankan Karakter Bangsa

ditulis Oleh : Syaifudin Pengantar Diskursus Multikulturalisme merupakan karakteristik bangsa Indonesia. Karakteristik itu ditunjukkan tidak hanya dari 17.500 pulau yang beragam jenis, tetapi juga dari kekayaan etnis, budaya, dan agama. Dari keanekaragaman itu, Sultan Hamengku Buwono X (2008: 21) mengibaratkan Indonesia seperti taman dunia, yaitu taman miniatur dunia yang dipenuhi dengan keindahan beragam etnis, budaya, dan agama. Istimewanya, karakteristik Indonesia tersebut masih kokoh tertopang oleh empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar itu menjadi konsensus final bagi bangsa Indonesia. Keempatnya merupakan harga mati untuk dipertahankan.

Revolusi Optimisme

ditulis Oleh : Rohmatikal Maskur Apakah potensi terbesar yang dimiliki Indonesia? Sering kali pertanyaan tersebut dilontarkan. Ada yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada kekayaaan sumber daya alamnya (SDA), jika kita bisa memaksimalkan pengolahannya pasti Indonesia akan sejahtera. Ada juga yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada letak geografis dan kebudayaannya, jika kita bisa memaksimalkan pengelolaannya pasti pariwisata Indonesia mampu menjadi sumber kesejahteraan yang besar bagi Indonesia. Tidak berhenti disitu, ada juga yang menjawab potensi terbesar Indonesia terletak pada sumber daya manusianya (SDM), jika pendidikan di Indonesia berhasil melahirkan generasi emas, maka pasti Indonesia akan benar-benar sejahtera.

Sekolah Berbasis Kearifan Lokal: Peretas Pendidikan Yang Membebaskan

Karya: Mu’awanah Arena pendidikan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dengan derajat tinggi. Dalam kondisi keterpurukan bangsa dan negara, pendidikan diharapkan menjadi andalan untuk bangkit melalui perubahan. Sayangnya, lembaga pendidikan masih menjadi bagian dari masalah nasional; Kurikulum yang tidak pernah konsisten, menyebabkan  tidak melihat latar belakang individual pendidik dan yang terdidik (murid) . Masalah nasional tersebut juga disusul dengan   k urikulum yang masih terpusat, kastanisasi pendidikan sebagai akibat pendidikan mahal, serta sertifikasi yang membuat para pendidik (guru) gelap mata, bahkan membudayanya transaksi pendidikan. [1]

Merindukan Sistem Pendidikan Terintegrasi demi Terwujudnya Generasi Berkarakter

ditulis oleh :  Mochamad Rifqi Alian Hampir seabad yang lalu, seorang penulis dan wartawan muda yang prihatin terhadap kondisi bangsanya menulis sebuah artikel kontroversial yang dimuat dalam surat kabar De Expres . Als ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), menyiratkan kisah pilu kondisi masyarakat Indonesia di tengah keberlimpahan kekayaan alam yang dimiliki. Keterbelakangan pendidikan para pribumi mengusik keprihatinan sang penulis muda. Hingga pada tanggal 3 Juli 1922, sang penulis mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa. Ya, Ki Hajar Dewantara, dengan semboyannya yang begitu terkenal, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani, mengupayakan kesetaraan hak pendidikan bagi kaum pribumi. Hak memperoleh pengajaran, hak yang pada hakikatnya adalah asasi bagi setiap generasi di muka bumi ini.

Pendidikan Karakter, perlukah?

ditulis oleh : Lena Riana Sani Pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup suatu bangsa. Pendidikan dasar karakter jadi modal utama pembentuk generasi muda suatu bangsa. karakter yang dimilikinya nanti akan ikut menentukan keberhasilan suatu bangsa di masa yang akan datang. Di samping keahlian yang dimiliki, karakter yang baik akan menjadi suatu penyeimbang dalam proses pembelajaran dan kehidupan nyata atau sosial.

Pendidikan untuk Mereka yang Tersisihkan

ditulis Oleh :  Muwaffiqol Fahmi Al-muttaqin Hembus angin sore mulai terasa menusuk tulang. Dingin. Letih sekali sejak tadi mengedarkan pandang ke kanan-kiri tak juga kutemukan alamat yang kucari. Pintu belakang angkot biru yang dibuka penuh membuat angin dengan leluasa memaksa bulu-bulu kulitku berdiri. Walaupun sudah dua tahun lebih aku tinggal di kota ini , tak pernah aku menghafal nama -nama jalan.

Aku dan Dunia Contek - Mencontek

ditulis Oleh : Jenny Rahayu “Setitik langkah untuk berubah dan berbuah” Geram, aku mendengar wacana perubahan dari berbagai pihak dan kalangan. Katanya, mau membenahi ini dan itu. Tetapi, semua sekadar wacana tanpa ada aksi nyata. Dunia pendidikan yang seharusnya membentuk karakter bangsa telah kehilangan arah. Karena faktanya, diri ini melihat dan merasakan esensi pendidikan belum sesuai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan Kita Tidak Dikotori Oleh Orang Lain Namun Oleh Kaum Pendidiknya

Oleh : I Komang Wisnu Budi Wijaya             Saat ini pendidikan di Indonesia sedang diwarnai berbagai kasus yang mengarah pada kasus criminal seperti pembocoran soal dan jawaban UN oleh oknum guru dan kepala sekolah, penganiayaan oknum guru kepada murid dan pemerkosaan murid oleh oknum guru dan kepala sekolahnya sendiri. Kasus-kasus ini sudah tentu berpengaruh terhadap citra pendidikan di Indonesia yang nanti muaranya akan mengarah kepada kualitas pendidikan.

Pemuda Masa Depan

ditulis Oleh : Deni Setiadi Tanggal 28 oktober merupakan hari sumpah pemuda. Sebuah sejarah yang memberikan bukti nyata peran pemuda dalam persiapan kemerdekaan sekaligus bentuk cinta sepenuhnya terhadap Negara republik Indonesia. Perjanjian dalam bentuk sumpah yang menyatakan satu kesatuan yaitu kesatuan republik Indonesia dalam segala aspek. Sebagai pemersatu dengan keanekaragaman yang dimiliki berupa bahasa, kebudayaan, suku, dll. Melihat banyaknya keanekaragaman tersebut dapat menimbulkan konflik bila tidak ada pemersatu, karena saling menonjolkan ego tiap daerah. Patut disyukuri lahirnya sumpah pemuda ini berdampak baik pada kesatuan utuh Indonesia. Pesimisme rakyat akan mendapatkan kemerdekaan sempat muncul, namun upaya pemuda dalam melakukan negosiasi praktis berupa sumpah membuka harapan Indonesia bisa merdeka.

Pendidikan Humanis dan Problematika Kemanusiaan

ditulis oleh : Aura Alifa Asmaradana Sebagai sebuah negara yang sedang terus merintis demokrasi, Indonesia berkali didera masalah kekerasan terhadap kemanusiaan. Sayangnya, Indonesia tampak belum cukup sigap menghadapinya. Sampai saat ini, ada banyak kasus kemanusiaan yang diabaikan oleh instansi yang berwenang. Misalnya saja penculikan, penahanan dan penangkapan sewenang-wenang, serta penghakiman terhadap kaum tani dan nelayan di berbagai belahan Indonesia. Juga kejadian yang seringkali dianggap remeh, kecurangan pada pelaksanaan Ujian Nasional yang sudah banyak dipublikasikan media massa. Pembagian jawaban soal ujian oleh guru dan pencontekan massal bukanlah masalah sederhana. Itu adalah masalah pengabaian nilai-nilai kemanusiaan. Besar kemungkinan, jika hal itu dibiarkan akan menumbuhkan perilaku koruptif dan penindasan yang merugikan masyarakat luas.

Pendidikan Karakter dan Kemajuan Bangsa

 ditulis Oleh : Abdushshabur Rasyid Ridha “Pendidikan karakter itu tak sekedar dipelajari tetapi dipraktekkan” Hari itu adalah hari pertama saya masuk kuliah, sebagai mahasiswa baru ekspektasi saya saat itu adalah akan mendapatkan ilmu yang baru yang mungkin belum pernah diajarkan saat dimasa SMA. Namun, mata kuliah di hari pertama saya kuliah saat itu adalah sejenis mata pelajaran bimbingan konseling saat di SMA. Awalnya saya kecewa karena pada saat itu mata kuliah pengembangan kepribadian diri seperti ini hanya dianggap sekedar formalitas saja tanpa ada implementasi yang nyata di kehidupan sehari-hari. Sehingga upaya diadakannya mata kuliah seperti ini justru menjadi mata kuliah yang anggap remeh oleh banyak mahasiswa dan juga dinilai tidak efektif untuk diterapkan di sebuah perguruan tinggi. Jika sudah begini apakah nantinya jenis mata kuliah seperti ini akan berjalan efektif dan berdampak bagi peserta didiknya? Jawabannya kembali kepada bagaimana sistem dari...

Keprofesionalan Pendidik Karakter Siswa (Guru) Jangan Diukur Dari Embel-Embel Sertifikasi

ditulis oleh : Yeni Eka Surya ...Wahai kaum guru semua, bangunkan rakyat dari g’lita, Kita lah penyuluh bangsa, pembimbing melangkah ke muka Insyaflah ‘kan kewajiban kita, mendidik mengajar pra’putra, Kita lah pembangun jiwa, pencipta kekuatan negara... Dari syair MARS PGRI di atas pun juga bisa kita simpulkan bahwa tugas seorang guru adalah mendidik bukan mencari materi sebanyak-banyaknya. Menjadi guru yang benar-benar berkualitas, dan berharap agar anak didiknya dapat meneruskan cita-cita bangsanya. Guru juga diibaratkan pahlawan tanpa tanda jasa dalam dunia pendidikan. Perannya dalam pendidikan bukan semata-mata sebagai pemberi nilai dalam rapor, atau menjadi panitia ketika ada ulangan, juga bukan hanya sebagai pemberi peringkat bagi anak didiknya yang berprestasi di kelas. Jasanya yang begitu besar dalam memberikan pengajaran dan pelajaran tidak semata-maka agar anak didiknya mendapat pengetahuan yang nantinya bermanfaat sebagai pedoman di masa depan, ia juga tidak h...

Jati Diri Bangsa Bermula Dari Pendidikan

Ditulis Oleh :  M Saidil Umerey Pendidikan, suatu kata keramat yang dapat mengubah suatu hal sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Baik formal maupun non formal, yang memiliki taraf ekonomi tinggi maupun sangat rendah, dari negara maju dan terbelakang sekalipun, pendidikan menjadi prioritas utama dalam kehidupan masyarakat di dunia. Mengapa pendidikan begitu penting dan menjadi prioritas? Ini disebabkan karena pendidikan adalah “alat” pembentuk generasi muda bangsa suatu negara. “Beri saya 100 orang dewasa untuk mengguncang Gunung Galunggung, tetapi beri saya hanya 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia.” Sebuah kata mutiara dari mendiang proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno menjadi alasan utama generasi muda sebagai tonggak kemajuan negara. Seperti dikemukakan sebelumnya, pendidikanlah awal dari kemajuan itu. Sebelumnya, kita harus mengetahui pendidikan yang sebenarnya. Apakah pendidikan hanya untuk mengejar nilai sempurna? Nilai 9 di rapor atau punya IP...