Skip to main content

Anak Muda, Masihkah Antusias Berbahasa Indonesia?


Oleh: Ryandy Dwian Suchendar

KOMPAS.com — "Kami, putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia...."

Secara sosiologis, bahasa Indonesia lahir dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Hingga kini, kosakata bahasa Indonesia kian bertambah melalui serapan bahasa asing dan daerah. Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu sebelumnya telah dikenal oleh banyak negara asing melalui perannya sebagai lingua franca pada abad ke-14.

Tak sedikit negara yang tertarik mendalami bahasa Indonesia. Di tahun 2009 saja disebutkan setidaknya ada 45 negara telah membuka pengajaran bahasa Indonesia di seluruh dunia (Kompas.com, 29 Oktober 2009). Di dalam negeri, program Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) tersebar di berbagai universitas di Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) adalah salah satu universitas yang menyediakan BIPA. Sebagian besar mahasiswa asing di BIPA FIB UI berasal dari Korea Selatan.

"Kalau belajar bahasa Indonesia, ada kesempatan kerja. Bisa jadi manajer," ujar Kim Tae Gu saat diwawancarai tim media komunikasi Cangkir Ikatan Keluarga Sastra Indonesia U, Juni 2012. Kim Tae Gu adalah salah satu mahasiswa asal Korea Selatan yang telah menempuh tiga semester di program studi Sastra Indonesia UI. Banyaknya kerja sama yang dilakukan Indonesia dengan negara lain di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya membuat warga negara asing berlomba-lomba belajar bahasa Indonesia sehingga komunikasi menjadi lebih lancar.

Antusiasme bangsa asing untuk mempelajari bahasa Indonesia sangat besar. Lantas, bagaimana dengan generasi penerus bangsa ini? Apakah generasi muda Indonesia juga memiliki antusiasme yang besar dalam memahami dan meresapi pentingnya bahasa Indonesia sebagai jati diri dan identitas bangsa Indonesia?

Dengan bertambahnya intensitas pelajar asing dalam belajar bahasa Indonesia, kita harus bangga bahwa bahasa kita diminati oleh bangsa asing. Namun, semangat ini tampaknya tidak tecermin di kalangan generasi muda.

Mei 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan 7.000 siswa SMA tidak lulus ujian nasional (UN) karena mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia (Kompas.com, 25 Mei 2012). Bahasa Indonesia seakan-akan dianggap sebagai bahasa yang sulit dipelajari. Pihak kementerian harus membuat solusi supaya mata ajar Bahasa Indonesia menjadi mata ajar yang mudah dipahami.

Selain itu, dalam keseharian, masih sering kita jumpai penggunaan kosakata bahasa alay yang berkembang luas di masyarakat, khususnya remaja. Bahasa alay atau bahasa Indonesia nonformal, yang sering digunakan saat mengirim pesan singkat (SMS), boleh saja digunakan asal sesuai konteks pembicaraan, seperti pergaulan remaja. Jika sudah masuk dalam ranah dunia akademis, seperti dalam sekolah, perkuliahan, seminar, dan rapat, bahasa tersebut harus dihindari dan diganti dengan bahasa formal.

Pelestarian bahasa Indonesia juga tak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah pusat bersama Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Namun, ini menjadi tanggung jawab masyarakat, mulai dari mahasiswa, guru, pegawai kantoran, sampai pewarta berita di stasiun televisi. 

Di kalangan mahasiswa, banyak diadakan acara-acara kebahasaan untuk memperingati bulan bahasa. Biasanya acara kebahasaan diadakan oleh mahasiswa program studi Indonesia. Contohnya adalah Ikatan Keluarga Sastra Indonesia UI yang mengadakan Festival Bulan Bahasa Indonesia (Falasido), 29-30 Oktober ini.

Kita sebagai pemilik, penerus, dan pengguna bahasa Indonesia justru seharusnya lebih cekatan dalam menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita semarakkan bulan bahasa dengan mengingat lagi perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 

Jaya negeriku, jaya bahasaku, jaya bahasa Indonesia! 

(Ryandy Dwian Suchendar, Ketua Ikatan Keluarga Sastra Indonesia FIB UI 2012)

Comments

Popular posts from this blog

Mengembalikan Karakter Indonesia Yang Sesungguhnya Dengan Kembali Menyalakan Semangat Seni Dan Budaya Yang Kini Mulai Padam

Oleh :  Fadjar Mulya Remaja merupakan generasi penerus bangsa, merekalah pemegang estafet kepemimpinan, mereka pulalah yang nanti menentukan masa depan negera Indonesia, mau bergerak kearah yang lebih baik atau mau tetap seperti saat ini, atau bahkan membuat negeri ini kearah yang lebih buruk, di tangan mereka kelak semua rakyat berharap suatu perubahan. Jumlah remaja di Indonesia adalah sekitar 26,7 % dari total penduduk Indonesia atau sekitar 63,4 juta jiwa (Vivanews 2012), jumlah yang cukup besar, dari 63,4 juta jiwa tadi sekitar 58 juta adalah Pelajar (Antaranews 2012) dan sekitar 4,8 juta adalah mahasiswa (Kompas 2011). Jumlah pelajar Indonesia ini hampir menyamai jumlah penduduk Inggris raya, artinya kita mempunyai potensi sumber daya manusia yang sangat besar, jika kita benar-benar mendidik remaja yang jumlahnya hampir menyamai jumlah penduduk Inggris raya tadi, tentu kelak Indonesia merupakan Negara yang disegani dunia, belum lagi kekayaan alam yang amat banyak, keane...

Dilema Masyarakat Sedulur Sikep: Pendidikan Yang Membuka Lembaran Trauma Sejarah

ditulis Oleh : Weni Mardi Pendidikan adalah tonggak utama kemajuan sebuah negara, karena itu tidak heran jika di Indonesia ada undang- undang nomor 20 ayat 1 sampai 4 tahun 2003 yang mengatur tentang sistem pendidikan nasional. Dan berdasarkan undang- undang 20 (1) tahun 2003 tertera bahwa setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Akan tetapi undang- undang tersebut tidak sepenuhnya bisa diberlakukan karena   beberapa hal seperti biaya pendidikan yang mahal, kurangnya jumlah guru yang berkompeten, fasilitas yang tidak memadai dan penolakan dari sejumlah komunitas adat di daerah terpencil yang belum merasakan pentingnya pendidikan formal. Salah satu dari komunitas adat yang menolak memberikan pendidikan formal bagi anak- anak mereka adalah komunitas sedulur sikep (juga dikenal sebagai kaum samin oleh masyarakat luas).

Panduan Penulisan Esai

Esai adalah karya yang bersudut pandang personal subyektif si penulis, bukan sekadar makalah ilmiah yang penuh dengan catatan kaki dan taburan kutipan teori. Esai berisi pemikiran yang dipadu dengan pengalaman, observasi lapangan, anekdot, dan pergulatan batin si penulis tentang subyek yang ditulisnya. Jenis tulisan ini sangat tepat untuk menggambarkan gagasan seseorang. Indonesia akan sangat membutuhkan banyak pemimpin dan pemikir muda masa depan yang punya gagasan orisinil untuk kemajuan negeri ini. Seorang pemimpin harus mampu menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan.   Naskah ditulis menggunakan MS Word, disimpan menjadi file *.doc atau *.docx. Bukan dalam bentuk Adobe PDF. Cara Penamaan file: Nama_Kampus/Sekolah_Subtema_Judul tulisan (contoh : Dedy_UNJ_Pendidikan yang Memanusiakan_Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan)  Format Dokumen Naskah Esai: Ukuran Kertas: A4 Margin Atas: 3 cm Margin Bawah: 3 cm  Margin Kiri: 4 cm Margin Kanan: 3 cm Spasi ...