Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pendidikan

Prof Soedijarto

Nama beliau cukup singkat, Soedijarto. Guru besar UNJ ini telah banyak berkiprah di dunia pendidikan Indonesia. Sebagian besar aktifitas kehidupannya didedikasikan untuk kemajuan pendidikan. Pelbagai pemikiran, gagasan dan harapannya seputar kemajuan pendidikan dapat kita temukan dalam berbagai Buku , makalah, karya tulis di media massa maupun sepak terjangnya dalam mengkritisi berbagai persoalan pendidikan melalui organisasi ISPI dan CINAPS. Saat ini beliau menjadi "nakhoda" Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang didirikan pada 17 Mei 1960 di Jakarta. Dibawah kepemimpinan beliau ISPI berkembang dan aktif dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. 

TOR Bedah Buku Pedoman Pendidikan Modern

Pendidikan Indonesia hari ini dibangun dengan dasar yang tidak jelas pijakanya. Pendidikan bukan lagi menjadi sarana untuk membentuk peradaban manusia yang berakhlak. Pendidikan lebih diarahkan dalam konteks ekonomi. Komersialisasi pendidikan terus mendapatkan legalitas di atas Undang - undang pendidikan. Padahal pendidikan adalah kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat indonesia. Pendidikan telah terputus dari sejarahnya. Tongkat estafet para tokoh pendidikan yang membangun Indonesia. Telah dihilangkan, dicampakkan dan dibiarkan, karyanya menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Tidak terhitung lagi berapa banyak literatur – Literatur klasik Indonesia yang disita dan dibakar pada zaman Penjajahan Inggris dan Belanda. Tidak jarang Belanda lebih banyak memilki dokumen – dokumen penting Indonesia dibandingkan Indonesia sendiri.

Menghitung yang Satu, Melupakan yang Seribu

oleh : Edi Subkhan (juri Esai SIA20120) Coba kita ingat-ingat dan lihat-lihat latar kehidupan sekeliling kita lebih jeli, tidak usah jauh-jauh tatap saja layar televisi kesayangan “kita” (hmm..), tiap detik kita disuguhi oleh aktivitas menghitung yang satu dan melupakan yang seribu. Apa maksudnya? Bukannya ingin berfilosofi, tapi saya ingin coba masuk pada arena perdebatan ideologis dari pintu yang berbeda dan semoga tidak membuat pusing atau tambah bingung. Begini saudara-saudara! (hehe…) Beberapa waktu lalu ada acara pada salah satu televisi swasta yang disebut Indonesia Mencari Bakat (IMB). Yah semacam kontes idol-idolan, dulu ada yang namanya Indonesian Idol (RCTI), Kontes Dangdut Indonesia (TPI), Akademi Pelawak Indonesia (TPI, sekarang TPI sudah almarhum), dan banyak lagi lainnya. Dari beribu-ribu peserta yang mendaftar Indonesia Mencari Bakat misalnya, hanya dipilih beberapa kelompok yang harus unjuk gigi menghibur pemirsa hampir tiap hari.

Ikan Kaleng (Cerpen Pendidikan)

oleh Eko Triono ( Kompas , 15 Mei 2011) /1/ SAM  tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan dinas dari Jawa. Dan, tak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, menyadarkannya diam-diam. Ia tersenyum mengingat ini. Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh legam dan rambut bergelung seperti ujung-ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.”

Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA

Nama/name : Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA Orang tua/parent : Drs. H. Rusdy Bey Fananie bin KH. Zainuddin Fananie (Pendiri Pondok Modern Gontor- Ponorogo, JATIM). Ibu/mother: Hj. Kiki Zakiah binti H. Zaini Meki Istri/wife : Deasy Indriani, SE. Place/date of birth : Jakarta, 13 November 1967 Agama/religion : Islam PENDIDIKAN/EDUCATION 2008   : Pendidikan Lemhannas RI, PPRA XLII 2008 1994 – 1997 : (S2) MA at the faculty of Theology and Art in INIS Master of Art Program, RijksUniversiteit Leiden, Nederland with a thesis : Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh. 1992 – 1993 : Faculty of Political Science, Government College, Punjab University, Lahore, Pakistan. 1990 – 1992 : (S1) History & Islamic Studies (Bachelor of Art), at University of The Punjab, Lahore Pakistan. 1989 – 1990 : English Departement (Certification), at National Institute of Modern Languages (NIML), Qu’aidi Azam Ali Ji...

Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia

Kita sebagai  orang tua  seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul  di sekolah . Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai  orang tua . Benar tidak? Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya  belajar   di sekolah  saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.

Hasil Seleksi Lomba Esai

Bismillahirrahmanirrahim Berdasarkan Hasil Penilaian Dewan Juri tulisan yang seharusnya diseleksi menjadi 50 besar telah ditetapkan 36 Esai saja yang dapat masuk ke sesi Voting, berikut judul karya yang lolos Seleksi :

Mengenal Engku Moehammad Sjafei dari Dekat

Membicarakan seorang tokoh sekaliber Moehammad Sjafei, sungguh  dirasakan perlu juga kita mengetahui seorang yang paling berjasa terhadap beliau,  3  orang itu adalah Inyik Ibrahim Marah Sutan (Marah Sutan)1 dan isterinya seorang  yang buta huruf tetapi jiwa nasionalis dan patriotisnya sangat tinggi dan beliau  mendapatkan gelar dari masyarakat adalah ”Laba-laba merentang jaring”, yaitu  Andung Chalidjah. Kedua orang inilah yang mengangkat Moehammad Sjafei  menjadi anak serta menyekolahkannya, sehingga berhasil memimpin Pendidik  Ruang INS Kayutanam, yang sebelumnya sudah dirintis oleh Sutan Marah. (AA.  Navis: 1996:4). Sutan Marah yang menamatkan pendidikan Kweekschool, yang oleh rakyat  dinamakan sekolah raja 2 yang didirikan di Bukittinggi. Setelah menamatkan pendidikan tahun 1890, beliau langsung menjadi guru pada sekolah rendah di Padang Sumatera Barat, dan kemudian menikah dengan gadis buta huruf dari Bengkulu...

Menuju Pembelajaran Transformatif

[...] sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah, mereka dilatih mempelajari gagasan dan pengetahuan formal dari “luar sana” sebagai jawaban atas segala persoalan mereka, bahkan lebih berbahaya lagi, sebagai tujuan, sebagai hidup yang ideal. (Nurhady Sirimorok, 2010: 201) Upaya untuk mengimplementasikan sebuah mazhab pemikiran dan praksis pendidikan yang ditujukan untuk transformasi sosial pada mulanya memang lebih banyak dilakukan di luar sistem pendidikan formal persekolahan  (schooling),  sasarannya juga pada mulanya lebih banyak dari orang dewasa  (adult),  hal ini terjadi misalnya ketika Paulo Freire mulai menggerakkan praksis pendidikan pembebasannya untuk masyarakat petani, buruh, dan kaum terpinggirkan-tertindas lainnya di Brazil pada tahun 1960 dan 1970-an.

Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil , lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Gha...

KH. R. Zainuddin Fananie

KH.R. Z.Fananie: Biografi Singkat KH. R. Zainuddin Fananie lahir di Gontor Ponorogo Jawa Timur pada tanggal 23 Desember 1905. Putera keenam Kiyai Santoso Anom Besari. Silsilah KH. R. Zainuddin Fananie terhubung dengan Kiyai Tegalsari, Khalifah Hasan Besari. Kiyai Khalifah Tegalsari mengambil menantu Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin, keturunan ke-IV Keraton Cirebon. Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin mempunyai putera Kiyai Archam Anom Besari. Kiyai Archam Anom Basari mempunyai putera Kiyai R. Santosa Anom Besari yang bertempat tinggal di Ponorogo, Gontor, Jawa Timur. Istri Kiyai R. Santosa Anom Besari, Bu Nyai Santosa Anom Besari, merupakan keturunan Kanjeng Bupati Surodiningrat. [1] Pasangan inilah yang melahirkan KH. R. Zainuddin Fananie.

Guru dan Mutu

SUDAH lebih dari setengah abad kita mengelola sekolah agar semakin hari hasilnya semakin bermutu. Kita bertolak dari asumsi bahwa untuk melahirkan hasil yang bermutu, kita pun harus mempunyai angkatan guru yang bermutu pula. Karena itu, tidak semua orang diberikan kewenangan mengajar. Mereka harus terlebih dahulu memasuki sebuah lembaga vokasional atau profesional, yang secara sederhana berarti lembaga yang khusus menyiapkan tenaga terdidik untuk menjadi guru. Untuk memastikan guru-guru kita tetap up to date, kita menatar, menatar, dan menatar terus mereka agar mereka lebih kompeten. Untuk memastikan serta membantu agar guru-guru dapat bertugas dengan baik, kita siapkan “pedoman kurikuler” yang rinci mengenai segala hal yang perlu diterapkan di dalam proses pelaksanaan tugasnya. Dan, untuk memastikan bahwa hasil kerja mereka betul-betul bermutu, maka kita evaluasi pencapaian pelajaran murid mereka, dalam bentuk Ebtanas. Kurang apa lagi usaha kita?

Rahmah El-Yunusiyyah, Syaikhah Dunia Pendidikan Perempuan

Negeri Minangkabau terkenal telah melahirkan begitu banyak tokoh utama di negeri ini, baik alim ulama maupun para cendekia. Tidak hanya hanya kaum pria yang menonjol, tapi juga kaum wanitanya. Salah satu tokoh perempuan hebat dari negeri ini adalah Rahmah El-Yunusiyah. Tidak diragukan lagi Rahmah el-Yunusiyah adalah salah satu tokoh wanita hebat yang dimiliki Indonesia. Meskipun tidak diangkat sebagai salah satu pahlawan Indonesia, tetapi beliau menorehkan sejarah hidupnya denga tinta emas. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang tetap eksis hingga hari ini merupakan salah satu bukti kehebatannya. Bahkan beliau adalah perempuan pertama yang mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Mesir. Penganugerahan gelar syaikhah yang diberikan pada tahun 1957 ini dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam bidang pendidikan kaum perempuan. Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Anak bungsu dari...

K.H Ahmad Dahlan dan Pendidikan Bangsa

Kiai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis panggilan di masa kecil adalah tokoh pembaharuan Islam yang ada di Indonesia. Terlahir dari seorang khatib Amin Masjid besar Yogyakarta KH Abu Bakar. KH Ahmad Dahlan menjadi seorang mujadid yang mengembalikan lagi kemurnian ajaran Islam ketika Islam saat itu telah kental dengan budaya kejawen.  Dalam kondisi ritual keagamaan Islam di jawa saat itu, masyarakat Islam di jawa telah terjangkit penyakit aqidah yang di kenal dengan tahayul, bid’ah dan khurafat..Penyalit ini adalah sebuah pemahaman Islam yang sempit dan mencampuradukkan antara ibadah dan syrik agama seperti menziarahi kubur yang dikeramatkan dan meminta berkah di ritualnya, memberi makanan sesajen kepada pohon-pohon besar, percaya terhadap ramalan dukun dan percaya terhadap benda-benda yang di anggap jimat. Dalam kehidupan penjajahan belanda saat itu, pendidikan menjadi suatu yang langka. Sekolah belanda hanya diperuntukkan bagi para kaum bangsawan dan itupun sangat d...

SI Semarang dan Onderwijs

Tan Malaka (1921) Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan. PENDAHULUAN Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini, yang maksudnya hendak menggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat. Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.

K.H. Hasyim Asy’ari

Berbicara mengenai pendidikan Islam, khususnya pendidikan pesantren,    di Indonesia, tentu tidak bisa dilupakan nama legendaris satu ini. Ia lebih dikenal di kalangan pesantren dengan sebutan Hadratusy-Syaikh.  Sebuah sebutan penghormatan untuk seorang ulama besar di negeri ini. Nama lengkapnya Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid, lahir di Jombang Jawa Timur 14 Februari 1871.

Membaca Ulang Kontribusi Pesantren terhadap Bangsa

Masihkah kita meragukan peran dan   kontribusi  institusi  pesantren  untuk negara- bangsa  ini?  Sebaliknya, yang harus  dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun  dan mengembangkan pesantren -pesantren di Indonesia . Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia.  Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses  transformasi  ilmu dari ulama ke masyarakat ( tarbiyah wa ta’lim , atau  ta’dib ). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.

Sumbangsih untuk Membentuk Karakter Bangsa

Oleh: Drs. Husnan Bey Fananie, MA. Cetak ulang buku “Pedoman Pendidikan Modern” karya KH. R. Zainuddin Fananie yang telah pernah diterbitkan pada tahun 1934 ini diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi upaya mewujudkan pendidikan karakter di Indonesia. Seperti kita ketahui hal ini tengah gencar-gencarnya digagas oleh para ahli pendidikan kita akhir-akhir ini.

Sang Pengandjoer van Gontor

" Kita mesti bergerak, geraknja gerak madjoe, madjoe berlomba-lomba, ke arah ketinggian, kegembiraan, kesentosaan Islam dan pemeloeknya. Mesti bergerak kata kita, karena memang semata-mata wadjib mendjoendjoeng tinggi perintah Toehan Rabboel ‘Izzati " (KH. R. Z. Fananie,  Buku Sendjata Pengandjoer dan Pemimpin Islam) . SEJATINYA, ruh sebaris kalimat dalam satu paragraf di atas memberikan lecutan semangat yang sangat keras. Semangat yang dikobarkan kepada setiap anak bangsa saat itu agar terus bergerak melakukan perubahan untuk memancangkan keluhuran Islam dan kesejahteraan pemeluknya. Barisan kalimat pada paragraf di atas, boleh jadi merupakan keluh kesah dan ungkapan hati sang penulis atas fenomena yang terjadi saat itu. Kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan umat Islam akibat penjajahan berabad-abad, kala itu, memang mutlak menjadi perhatian sang penulis yang juga dikenal sebagai salah seorang pemimpin umat yang concern di dunia keislaman, pergerakan, sosial, dan...

Berkarya Berdaya Guna

Bismillahirrahmanirrahim Berkarya adalah salah satu elemen penting dalam membangun peradaban yang maju. Semua kemajuan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari terciptanya suatu karya yang terakumulasi. Mobil dan motor bisa tercipta karena  Charles Goodyear berkarya menciptakan ban berbahan karet. Karya juga tidak terbatas pada penemuan suatu benda, tetapi juga bisa dalam bentuk teori , metode, dan pemikiran. “Saya dapat melihat jauh ke depan karena , Saya berada di atas pundak raksasa” (Isaac Newton). Newton mengakui bahwa dia dapat menemukan Hukum Fisika tentang gerak karena ada karya orang lain yang Newton jadikan pondasi Hukumnya, dan orang itu adalah galileo galilei. Untuk mewujudkan Indonesia yang jauh lebih baik tentu kita harus mendorong masyarakat Indonesia untuk produktif berkarya, namun ternyata karya saja tidak cukup tetapi ada yang jauh lebih utama yaitu “Ilmu” (pemahaman) tentang Karya.