Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Diskusi Publik

Dua Tokoh Pesantren Kritik Pendidikan Indonesia

Hidayatullah.com-- Berbicara pendidikan di Indonesia pasti akan mengkaitkan dengan para pendidik (guru), kurikulum dan para siswanya. Melalui diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dua tokoh pesantren ternama Indonesia, Direktur Islamic Educational Institution Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan ELM., SE AKT., M.SI dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor-Ponorogo, mengkritik istilah pendidikan karakter yang selama ini sering digunakan di Indonesia.

Membangun Kembali Pendidikan Indonesia Melawan Hedonisme

Sabtu, 10 November 2012 bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta diselenggarakan diskusi publik dengan mengangkat tema berjudul Membangun Kembali Pendidikan Indonesia. Diskusi publik ini merupakan salah satu rangkaian dari gerakan Sospol in Action yang dinaungi oleh BEM Fakultas MIPA Universitas Negeri Jakarta. Diskusi menghadirkan dua pembicara pada bidangnya yaitu Fauziah Fauzan, SE.Akt, M.Si selaku Pimpinan Ponpes Diniyyah Puteri Padang Panjang serta Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi selaku Direktur Insist, Ketua MIUMI , dan anak pendiri Ponpes Gontor sekaligus Pengajar diasana. Acara dibuka pada pukul 09.15 dan dihadiri kurang lebih 180 peserta baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.

Latar Belakang Diskusi Publik

Pendidikan Indonesia hari ini dibangun dengan dasar yang tidak jelas pijakanya. Pendidikan bukan lagi menjadi sarana untuk membentuk peradaban manusia yang berakhlak. Pendidikan lebih diarahkan dalam konteks ekonomi. Komersialisasi pendidikan terus mendapatkan legalitas di atas Undang - undang pendidikan. Padahal pendidikan adalah kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat indonesia. Pendidikan telah terputus dari sejarahnya. Tongkat estafet para tokoh pendidikan yang membangun Indonesia. Telah dicampakkan dan dibiarkan, karyanya menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Pendidikan Pesantren , Muhammadiyah , Taman Siswa, dan Sekolah Rakyat dahulu hadir untuk melawan kesewenang – wenangan para penjajah, mencabut penjajahan kolonial sampai ke akar – akar masyarakat. mereka ada untuk memberikan kesempatan belajar bagi rakyat miskin yang waktu itu dipersulit mendapatkan pendidikan di sekolah. Masyarakat Dibiarkan bodoh agar terus muda terjajah oleh Pemerintah Kolon...

Andai aku seorang Belanda

Dalam surat –surat kabar, kini secara ramai-ramai dianjur-anjurkan , supaya diadakan perayaan di Hindia Belanda ini, perayaan kemerdekaan Nederland seratus tahun, rupa-rupanya segenap penduduk negeri ini diharuskan mengetahuinya, bahwa tepat dalam bulan November y.a.d ini Nederland menjadi kerajaan kembali dan rakyatnya menjadi bangsa lain merdeka dan berdaulat, sekalipun dalam barisan Negara-negara yang merdeka berdiri paling belakang. Di pandang dari sudut pengertian yang layak, memang dapatlah orang membenarkan hajat merayakan peristiiwa nasional yang tersebut itu,bukankah seharusnya kita menghargai kecintaan dan penghormatan orang-orang Belanda terhadap negerinya sendiri, dengan phlawan-pahlawannya?! Peringatan yang dimaksud adalah wujud rasa kebangsaan, bahwa satu abad yang lalu Nederland berhasil melemparkan penjajahan asing dan menjadi suatu bangsa sendiri..

Rahmah El Yunussiyah (Pendahuluan)

Dunia pendidikan kita di Indonesia saat ini masih berjuang keras untuk bangkit. Dengan harapan kebangkitan pendidikan itu suatu saat akan membuat peringkat SDM Indonesia tidak lagi di bawah angka 100 tetapi bisa masuk dalam jajaran 10 besar dunia. Ditengah kerja keras membenahi pendidikan, dalam saat yang sama, bangsa kita juga semakin miskin tokoh yang dapat menjadi figur teladan bagi umat dan bangsa. Kepergian tokoh-tokoh besar pejuang Indonesia ke hariban Tuhannya belum tergantikan sampai saat ini. Walaupun demikian, suri teladan dan kisah perjuangan yang mereka tinggalkan tetap bergema di pelosok negeri. Gema keteladanan mereka yang kita bingkai dalam mendidik anak dan generasi semoga akan melahirkan kembali generasi tangguh yang akan mengangkat peringkat kualitas SDM Indonesia di pentas internasional seperti perjuangan yang telah dilakukan Rahmah EL Yunusiyyah. Nama Rahmah EL Yunusiyyah goresan sejarah yang indah. Melukiskan ketegaran seorang muslimah pejuang dan pe...

Fauziah Fauzan EL M, SE, AKt, MSi.

CURRUCULUM VITAE Nama                                       : Fauziah Fauzan EL M, SE, AKt, MSi. Jenis Kelamin                         : Perempuan Tempat Tanggal Lahir          : Padang, 5 Januari 1971 Status Perkawinan                : Kawin Agama                                     : Islam Jabatan                                     :               Pimpinan Perguruan  Diniyyah Puteri- Padang Panjang   Ketua STIT Diniyyah Puteri  ...

Mengenal Engku Moehammad Sjafei dari Dekat

Membicarakan seorang tokoh sekaliber Moehammad Sjafei, sungguh  dirasakan perlu juga kita mengetahui seorang yang paling berjasa terhadap beliau,  3  orang itu adalah Inyik Ibrahim Marah Sutan (Marah Sutan)1 dan isterinya seorang  yang buta huruf tetapi jiwa nasionalis dan patriotisnya sangat tinggi dan beliau  mendapatkan gelar dari masyarakat adalah ”Laba-laba merentang jaring”, yaitu  Andung Chalidjah. Kedua orang inilah yang mengangkat Moehammad Sjafei  menjadi anak serta menyekolahkannya, sehingga berhasil memimpin Pendidik  Ruang INS Kayutanam, yang sebelumnya sudah dirintis oleh Sutan Marah. (AA.  Navis: 1996:4). Sutan Marah yang menamatkan pendidikan Kweekschool, yang oleh rakyat  dinamakan sekolah raja 2 yang didirikan di Bukittinggi. Setelah menamatkan pendidikan tahun 1890, beliau langsung menjadi guru pada sekolah rendah di Padang Sumatera Barat, dan kemudian menikah dengan gadis buta huruf dari Bengkulu...

Menuju Pembelajaran Transformatif

[...] sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah, mereka dilatih mempelajari gagasan dan pengetahuan formal dari “luar sana” sebagai jawaban atas segala persoalan mereka, bahkan lebih berbahaya lagi, sebagai tujuan, sebagai hidup yang ideal. (Nurhady Sirimorok, 2010: 201) Upaya untuk mengimplementasikan sebuah mazhab pemikiran dan praksis pendidikan yang ditujukan untuk transformasi sosial pada mulanya memang lebih banyak dilakukan di luar sistem pendidikan formal persekolahan  (schooling),  sasarannya juga pada mulanya lebih banyak dari orang dewasa  (adult),  hal ini terjadi misalnya ketika Paulo Freire mulai menggerakkan praksis pendidikan pembebasannya untuk masyarakat petani, buruh, dan kaum terpinggirkan-tertindas lainnya di Brazil pada tahun 1960 dan 1970-an.

Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil , lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Gha...

K.H Ahmad Dahlan dan Pendidikan Bangsa

Kiai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis panggilan di masa kecil adalah tokoh pembaharuan Islam yang ada di Indonesia. Terlahir dari seorang khatib Amin Masjid besar Yogyakarta KH Abu Bakar. KH Ahmad Dahlan menjadi seorang mujadid yang mengembalikan lagi kemurnian ajaran Islam ketika Islam saat itu telah kental dengan budaya kejawen.  Dalam kondisi ritual keagamaan Islam di jawa saat itu, masyarakat Islam di jawa telah terjangkit penyakit aqidah yang di kenal dengan tahayul, bid’ah dan khurafat..Penyalit ini adalah sebuah pemahaman Islam yang sempit dan mencampuradukkan antara ibadah dan syrik agama seperti menziarahi kubur yang dikeramatkan dan meminta berkah di ritualnya, memberi makanan sesajen kepada pohon-pohon besar, percaya terhadap ramalan dukun dan percaya terhadap benda-benda yang di anggap jimat. Dalam kehidupan penjajahan belanda saat itu, pendidikan menjadi suatu yang langka. Sekolah belanda hanya diperuntukkan bagi para kaum bangsawan dan itupun sangat d...

SI Semarang dan Onderwijs

Tan Malaka (1921) Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan. PENDAHULUAN Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini, yang maksudnya hendak menggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat. Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.

K.H. Hasyim Asy’ari

Berbicara mengenai pendidikan Islam, khususnya pendidikan pesantren,    di Indonesia, tentu tidak bisa dilupakan nama legendaris satu ini. Ia lebih dikenal di kalangan pesantren dengan sebutan Hadratusy-Syaikh.  Sebuah sebutan penghormatan untuk seorang ulama besar di negeri ini. Nama lengkapnya Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid, lahir di Jombang Jawa Timur 14 Februari 1871.

Membaca Ulang Kontribusi Pesantren terhadap Bangsa

Masihkah kita meragukan peran dan   kontribusi  institusi  pesantren  untuk negara- bangsa  ini?  Sebaliknya, yang harus  dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun  dan mengembangkan pesantren -pesantren di Indonesia . Secara historis, keberadaan pesantren hampir bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia.  Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses  transformasi  ilmu dari ulama ke masyarakat ( tarbiyah wa ta’lim , atau  ta’dib ). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren.