Prof Soedijarto

Nama beliau cukup singkat, Soedijarto. Guru besar UNJ ini telah banyak berkiprah di dunia pendidikan Indonesia. Sebagian besar aktifitas kehidupannya didedikasikan untuk kemajuan pendidikan. Pelbagai pemikiran, gagasan dan harapannya seputar kemajuan pendidikan dapat kita temukan dalam berbagai Buku, makalah, karya tulis di media massa maupun sepak terjangnya dalam mengkritisi berbagai persoalan pendidikan melalui organisasi ISPI dan CINAPS.

Saat ini beliau menjadi "nakhoda" Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang didirikan pada 17 Mei 1960 di Jakarta. Dibawah kepemimpinan beliau ISPI berkembang dan aktif dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. 

Dua Tokoh Pesantren Kritik Pendidikan Indonesia


Hidayatullah.com--Berbicara pendidikan di Indonesia pasti akan mengkaitkan dengan para pendidik (guru), kurikulum dan para siswanya. Melalui diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dua tokoh pesantren ternama Indonesia, Direktur Islamic Educational Institution Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan ELM., SE AKT., M.SI dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor-Ponorogo, mengkritik istilah pendidikan karakter yang selama ini sering digunakan di Indonesia.

Membangun Kembali Pendidikan Indonesia Melawan Hedonisme


Sabtu, 10 November 2012 bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta diselenggarakan diskusi publik dengan mengangkat tema berjudul Membangun Kembali Pendidikan Indonesia. Diskusi publik ini merupakan salah satu rangkaian dari gerakan Sospol in Action yang dinaungi oleh BEM Fakultas MIPA Universitas Negeri Jakarta. Diskusi menghadirkan dua pembicara pada bidangnya yaitu Fauziah Fauzan, SE.Akt, M.Si selaku Pimpinan Ponpes Diniyyah Puteri Padang Panjang serta Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi selaku Direktur Insist, Ketua MIUMI , dan anak pendiri Ponpes Gontor sekaligus Pengajar diasana. Acara dibuka pada pukul 09.15 dan dihadiri kurang lebih 180 peserta baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.

TOR Bedah Buku Pedoman Pendidikan Modern

Pendidikan Indonesia hari ini dibangun dengan dasar yang tidak jelas pijakanya. Pendidikan bukan lagi menjadi sarana untuk membentuk peradaban manusia yang berakhlak. Pendidikan lebih diarahkan dalam konteks ekonomi. Komersialisasi pendidikan terus mendapatkan legalitas di atas Undang - undang pendidikan. Padahal pendidikan adalah kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat indonesia.

Pendidikan telah terputus dari sejarahnya. Tongkat estafet para tokoh pendidikan yang membangun Indonesia. Telah dihilangkan, dicampakkan dan dibiarkan, karyanya menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Tidak terhitung lagi berapa banyak literatur – Literatur klasik Indonesia yang disita dan dibakar pada zaman Penjajahan Inggris dan Belanda. Tidak jarang Belanda lebih banyak memilki dokumen – dokumen penting Indonesia dibandingkan Indonesia sendiri.

Buku Aku untuk IndonesiAku

Buku Pertama Karya anak bangsa yang lahir dari acara mahasiswa.semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi orang lain

pembayaran bisa dilakukan dengan transaksi via transfer antar bank / datang ke acara diskusi publik pendidikan & bedah buku kami


Latar Belakang Diskusi Publik


Pendidikan Indonesia hari ini dibangun dengan dasar yang tidak jelas pijakanya. Pendidikan bukan lagi menjadi sarana untuk membentuk peradaban manusia yang berakhlak. Pendidikan lebih diarahkan dalam konteks ekonomi. Komersialisasi pendidikan terus mendapatkan legalitas di atas Undang - undang pendidikan. Padahal pendidikan adalah kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat indonesia.

Pendidikan telah terputus dari sejarahnya. Tongkat estafet para tokoh pendidikan yang membangun Indonesia. Telah dicampakkan dan dibiarkan, karyanya menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Pendidikan Pesantren , Muhammadiyah , Taman Siswa, dan Sekolah Rakyat dahulu hadir untuk melawan kesewenang – wenangan para penjajah, mencabut penjajahan kolonial sampai ke akar – akar masyarakat. mereka ada untuk memberikan kesempatan belajar bagi rakyat miskin yang waktu itu dipersulit mendapatkan pendidikan di sekolah. Masyarakat Dibiarkan bodoh agar terus muda terjajah oleh Pemerintah Kolonial.

Menghitung yang Satu, Melupakan yang Seribu


oleh : Edi Subkhan (juri Esai SIA20120)
Coba kita ingat-ingat dan lihat-lihat latar kehidupan sekeliling kita lebih jeli, tidak usah jauh-jauh tatap saja layar televisi kesayangan “kita” (hmm..), tiap detik kita disuguhi oleh aktivitas menghitung yang satu dan melupakan yang seribu. Apa maksudnya? Bukannya ingin berfilosofi, tapi saya ingin coba masuk pada arena perdebatan ideologis dari pintu yang berbeda dan semoga tidak membuat pusing atau tambah bingung.
Begini saudara-saudara! (hehe…) Beberapa waktu lalu ada acara pada salah satu televisi swasta yang disebut Indonesia Mencari Bakat (IMB). Yah semacam kontes idol-idolan, dulu ada yang namanya Indonesian Idol (RCTI), Kontes Dangdut Indonesia (TPI), Akademi Pelawak Indonesia (TPI, sekarang TPI sudah almarhum), dan banyak lagi lainnya. Dari beribu-ribu peserta yang mendaftar Indonesia Mencari Bakat misalnya, hanya dipilih beberapa kelompok yang harus unjuk gigi menghibur pemirsa hampir tiap hari.

Ikan Kaleng (Cerpen Pendidikan)


oleh Eko Triono (Kompas, 15 Mei 2011)
/1/
SAM tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan dinas dari Jawa. Dan, tak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, menyadarkannya diam-diam. Ia tersenyum mengingat ini.
Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh legam dan rambut bergelung seperti ujung-ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.”

Andai aku seorang Belanda

Dalam surat –surat kabar, kini secara ramai-ramai dianjur-anjurkan , supaya diadakan perayaan di Hindia Belanda ini, perayaan kemerdekaan Nederland seratus tahun, rupa-rupanya segenap penduduk negeri ini diharuskan mengetahuinya, bahwa tepat dalam bulan November y.a.d ini Nederland menjadi kerajaan kembali dan rakyatnya menjadi bangsa lain merdeka dan berdaulat, sekalipun dalam barisan Negara-negara yang merdeka berdiri paling belakang.

Di pandang dari sudut pengertian yang layak, memang dapatlah orang membenarkan hajat merayakan peristiiwa nasional yang tersebut itu,bukankah seharusnya kita menghargai kecintaan dan penghormatan orang-orang Belanda terhadap negerinya sendiri, dengan phlawan-pahlawannya?! Peringatan yang dimaksud adalah wujud rasa kebangsaan, bahwa satu abad yang lalu Nederland berhasil melemparkan penjajahan asing dan menjadi suatu bangsa sendiri..

Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA


Nama/name : Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA
Orang tua/parent : Drs. H. Rusdy Bey Fananie bin KH. Zainuddin Fananie (Pendiri Pondok Modern Gontor- Ponorogo, JATIM).
Ibu/mother: Hj. Kiki Zakiah binti H. Zaini Meki
Istri/wife : Deasy Indriani, SE.
Place/date of birth : Jakarta, 13 November 1967
Agama/religion : Islam
PENDIDIKAN/EDUCATION
2008   : Pendidikan Lemhannas RI, PPRA XLII 2008
1994 – 1997 : (S2) MA at the faculty of Theology and Art in INIS Master of Art Program, RijksUniversiteit Leiden, Nederland with a thesis : Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh.
1992 – 1993 : Faculty of Political Science, Government College, Punjab University, Lahore, Pakistan.
1990 – 1992 : (S1) History & Islamic Studies (Bachelor of Art), at University of The Punjab, Lahore Pakistan.
1989 – 1990 : English Departement (Certification), at National Institute of Modern Languages (NIML), Qu’aidi Azam Ali Jinnah University, Islamabad, Pakistan.
1986 – 1988 : Faculty of education at Institut Pendidikan Darussalam (IPD), Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Indonesia.
1982 – 1986 : Islamic Training College (KMI) Pondok Modern Gontor, Ponorogo.
1979 – 1982 : Junior High School/ SMP Negeri IV Jakarta.
1973 – 1979 : Elementary School/ SD Negeri Kebon Manggis 08 pagi, Matraman, Jakarta Timur.

Anak Muda, Masihkah Antusias Berbahasa Indonesia?


Oleh: Ryandy Dwian Suchendar

KOMPAS.com  "Kami, putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia...."

Secara sosiologis, bahasa Indonesia lahir dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Hingga kini, kosakata bahasa Indonesia kian bertambah melalui serapan bahasa asing dan daerah. Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu sebelumnya telah dikenal oleh banyak negara asing melalui perannya sebagai lingua franca pada abad ke-14.

Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia


Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.